Rabu, 09 Januari 2013

BASAH ITU .. MENYADARKANKU..

     Sebagai sebuah basis pergerakan, organisasi yang disakralkan dengan nama PMII ini rupanya telah memberikan banyak perubahan dalam kehidupan manusia ini. Dengan usianya yang tak diragukan lagi kesahajaannya, organisasi ini telah melawan banyak arus yang tidak pula diragukan lagi perlawanannya serta peran penting terhadap Bangsa ini. Semangat leluhur PMII yang tak tertuliskan, rupanya sejalan dengan intrik-intrik perubahan yang digagas dalam nama suci Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Dengan banyaknya aktor yang telah banyak berkontribusi pada front depan maupun belakang guna menekankan dan mematok dalam-dalam paku semangat bergerak terhadap mental mapun rohani.



      Alhasil, organisasi ini telah banyak menetaskan telur-telur warga pergerakan yang tidak stastis, serta menjauhkan diri dari sikap teoritis dengan sikap toleran dan Nilai Dasar Pergerakan yang sampai saat ini menjadi acuan eratku. Suatu sublimasi nilai keislaman dan keindonesiaan dalam kerangka pemahaman Ahlus sunnah wal jama'ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah, mendorong serta menggerakan seluruh aktivitas seakan telah menjadi suatu pegangan yang wajib ku laksanakan. Kiranya, ada yang menarik disini, dimana salah satu hal yang paling berkesan telah mampu menjadi suplemen hidupku sampai saat ini yaitu ketika 'Mapaba Dahsyat' (alala yeyeye).

     Kala itu, ada Frase dimana setiap detik menjadi begitu panjang lantaran harus fokus ditengah tajamnya angin malam dan bertarung dengan rasa kantuk yang tiba-tiba harus dihilangkan untuk melakukan baris-berbaris (hehe, lebay deh). Aku masih ingat, saat itu -kalau tidak salah- sedang berada di pos terakhir, saat dimana lelah, basah serta kantuk yang dalam menjadi satu kesatuan yang tidak mampu terpisahkan (hehe). Saat itu penjaga Pos adalah sahabat Kak Herman yang secara tegas menyuruh kami untuk terlebih dulu masuk kedalam air sebelum Ia bertanya, dengan semakin basahnya dan malam yang semakin melebihi sepertiga-nya, tubuh menggigil ini semakin menjadi-jadi, tiba-tiba Kak Herman menyentak “Gimana perjuangan kalian!?”, serentak aku dan beberapa teman yang lain sembari mengigil menjawab “kami masih semangat ka’.. “ (meski tak tahu siapa yang dalam hatinya menggerutu, he). “Ah, payah, baru gitu ja dah menggigil!”, sahut Ka Herman teriak. “Gua mau nanya ma kalian, kalo kalian memang siap menjadi warga pergerakan..!” dengan nada seakan menantang. Secara keras dan teriak-teriak semangat “Dengan PMII ini, apa yang mau kalian kasih kepada masyarakat?” lanjutnya. “Yang pasti, aku mau memberikan yang terbaik tuk mereka dengan apa yang telah aku punya”, sahutku. Menanggapi jawabanku, Ka Herman kembali menimpali “Ah, teori!! “, “gua butuh yang pasti.., Negara ini tidak butuh banyak teori !!”, lantaran tak satupun memberikan yang terbaik menurutnya, setiap kali salah kami semua harus kembali menyelam kedalam kolam air namun lebih tepatnya ‘kolam es’ (haha).


       Namun pada akhirnya, setiap kali menyelam dan kepala ini terbasahkan oleh air dinginnya air, menyebabkan aku semakin sadar. Negara, bahkan terlebih agama ini, sudah cukup banyak mengunyah teori yang pada akhirnya hanya menyebabkan perbedaan dalam instrument saja (Teringat akan tulisan Deliar Noer yang membagi unsur ‘nilai’ menjadi dua, yakni “fundament” dan “Instrument”). Sebuah pergerakan hanya membutuhkan ‘gerak’ yang tidak apatis dan teoritis, namun tetap bersandarkan kepada NDP dan nilai-nilai ASWAJA untuk fundamentnya agar gerak yang diharapkan menjadi terarah. Dengan kenyataan itu, rupanya PMII telah menghitung matang-matang akan pentingnya sebuah perubahan bagi diri sendiri dahulu, baru kemudian memberikan yang terbaik kepada masyarakat dengan tidak stuck kepada pemahaman saja, bisa kita ambil contoh; adzan dimesjid, menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan atau menjaga kebersihan kamar, memberikan senyum kepada orang yang berpapasan, tahlil dg masyarakat dsb, merupakan bentuk yang sangat dan sangat sederhana namun melebihi titik berat suatu teori sekalipun. 

      Kiranya pula, mungkin ini yang dimaksudkan dengan warna kuning pada perisai atas (semangat mnenyala-nyala) sebagai kolega dari teduhnya warna biru bawah yang berarti ketinggian ilmu pengetahuan, yang implementasinya warna cerah ini sangat diharapkan mampu menerangi setiap manusia-manusia disekitarnya dengan terlebih dahulu menanamkan ilmu pengetahuan itu dalam perisai bawah (diri pribadi) agar penerangan terhadap masyarakat mampu tersiar terang. Dalam konteks ini, tak hanya Islam, namun MANUSIA. Karenanya, ku ucapkan terimakasih banyak tak terhingga PMII..

Untukmu satu tanahairku,

Untukmu satu keyakinanku..

Hormatku dibawah kibaranmu selalu..

Salam Pergerakan !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar