Jumat, 04 Januari 2013

" LORONG WAKTU KERTAS.."

Oleh: Sufyan Syafi’i


    Kertas merupakan benda yang banyak “tersebar” dimana-mana. Dimanapun, kita pasti menemukannya, di Pesantren Luhur, Kampus, kelas, bahkan yang aneh, penulis dapatkan kertas di dalam tumpukan tanah (ternyata isinya nilai-nilai ujian yang oleh “ pelaku” dianggap “kurang memuaskan”). Pendeknya, di berbagai kegiatan maupun tempat kita dapatkan kertas dengan berjuta fungsi dan pemakaiannya serta perubahan bentuk yang dikehendaki. Ada yang dijadikan buku tulis dengan sampul depan menarik, ada pula kertas yang dihiasi dengan pernak pernik warna hingga menjadi suatu gambar indah, adapula kertas yang mampu menyetarakan diri dengan emas yakni uang.

       Dengan berbagai bentuk dan ukuran, ia seakan mampu menempati berbagai bidang bahkan tak terbayangkan jika manusia hidup tanpa kertas. Secara historis, kertas ditemukan oleh Ts’ai Lun berkebangsaan Tionghoa yang hidup di zaman Dinasti Han, abad ke-1 sampai abad ke-2 Masehi atau sekitar 101 M. Lahir di Guiyang (sekarang di wilayah provinsi Hunan). Dulunya, Ia membuat kertas dari kulit kayu murbei. Bagian dalamnya direndam di air dan dipukul-pukul sehingga seratnya lepas. Bersama dengan kulit, direndam juga bahan rami, kain bekas, dan jala ikan. Setelah menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur. Lalu jadilah kertas yang mutunya masih belum sebagus sekarang. Bisa kita bayangkan, untuk membentuk sebuah buku dengan cara demikian, butuh berapa lama waktu yang dibutuhkan.

    Sebelum tersumbangnya kertas kepada dunia, peradaban China kala itu masih rendah bila dibandingkan dengan peradaban Barat. Hal ini karena tulisan masih dituliskan di atas kayu dan bambu yang berat, sementara Barat sudah menuliskannya pada lembar papirus dan kulit binatang. Namun begitu peradaban Barat berjalan lambat karena dua media tulis itu sangat mahal. Setelah kertas telah ramai diperbincangkan, keadaan China meningkat drastis, hingga dalam beberapa abad sanggup mengimbangi Barat. Peradaban Arab menyusul China karena mendahului Barat ini dikarenakan kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran dengan orang-orang Arab pada masa Abbasyiah di Sungai Talas pada tahun 751 Masehi. Para tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab, sehingga kemudian muncullah industri-industri kertas disana, maka tak aneh, kitab-kitab karangan ulama terdahulu menggunakan kertas Beirut/kertas kuning, karena memang saat itu modifikasi kertas yang begitu sederhana, tapi entah mengapa masih menjadi tradisi beberapa orang yang menjaga ke khas-an tersebut. Baru setelah Barat pada akhirnya tahu juga teknik membuat kertas yang pada awal mulanya hanya menyebar di sekitar Italia lalu secara luas ke Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan Spanyol dan menyebarlah teknik ini ke seluruh dunia.

     Kertas dengan ke-multifungsi-annya tersebut, rupanya tidak hanya berpengaruh dalam koridor pembelajaran atau baca tulis saja, bahkan terlebih ekonomi, khususnya Islam. Sejarah Islam mencatat, adanya sebuah kertas atau catatan yang padanya terdapat perintah dari seseorang untuk pembayaran uang dengan jumlah tertentu pada orang lain yang namanya tertera pada kertas tersebut atau yang lebih dikenal dengan istilah Shakk yang kemudian kata inilah yang menjadi akar kata dari “cheque” pada transaksi perbankan kontemporer dan masih banyak yang lainnya. Dengan berkembangnya zaman dan peradaban yang semakin maju, pembuatan kertas mulai mengalami perubahan disana sini. Berbagai macam tekhnik dilakukan, agar bisa mendapatkan kertas dengan kualitas yang baik dan menarik.

      Dengan banyaknya kegunaan tersebut, sudah barang tentu, banyak pula kertas yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Maka, selayaknya mari kita turut melestarikan kertas, karena selain unsur utama pembuatan kertas adalah kayu, bahan kimia juga ada dalam pembuatan tersebut. Kayu sendiri adalah salah satu bagian dari pohon. Pohon sendiri, selain berguna untuk mengeluarkan Oksigen (O²) juga sebagai sumber pakan dan penampung air hujan. Maka secara konklusif bisa dikatakan, mempergunakan kertas dengan tidak sewajarnya sepadan dengan turut memotong pohon yang difungsikan alam sebagai penetral alam alias sama dengan merusak alam ini.

     Curah hujan yang kerap terjadi belakangan ini, jika tidak ditampung dengan banyaknya pohon tentu sangat berpeluang besar untuk terjadinya longsor dan erosi. Baru-baru ini, bisa kita lihat longsor terjadi di Cilebet, dan puluhan tempat lainnya merupakan indikasi dari kurangnya tadahan hujan. Sulit dibayangkan dunia tanpa kertas, maka mari kita pergunakan dengan sebaik mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar