BAB 1 Ruang Lingkup Sosiologi “ Perubahan suatu masyarakat yang diprediksi (diramalkan) melalui pemahaman karakteristik suatu masyarakat tersebut. Perkembangan Ilmu Sosiologi telah membawa perubahan pendekatan dimana pada dekade sebelumnya analisis Sosiologi lebih bersifat makro, maka selanjutnya lebih mikro.” Ketika dihadapkan pada suatu masalah sosial, seorang penelitik sebaiknya memiliki Sikap Ilmiah, dimana ia harus bersifat: 1. Objektif (Peneliti hanya memaparkan objek yang diteliti berdasarkan keadaan objek tanpa sedikit pun terdapat unsur rekayasa penelitiannya) 2. Sikap Serba Relative (Mencari kebenaran yang dalam mencari kebenaran tidak ditujukan mencari kebenaran mutlakm sebab kebenaran ilmiha berdasarkan ilmiah berlaku berdasarkan atas beberapa postulat secara apriori apa adanya.) 3. Sikap Skeptis (Seorang ilmuan harus memiliki sikap keragu-raguan dalam menerima hasil kebenaran, sebab perasaan ragu tersebut akan mengantarkan pada keinginan untuk mencari bukti kebenaran yang ia terima) 4. Kesabaran Intelektual (Bekerja dengan teliti, tekun, sistematis, tanpa tergesa-gesa mengumpulkan hasilnya jika belum disertai dasar yang kuat) 5. Kesederhanaan (Kesederhanaan dalam cara berfikir, menyatakan dan membuktikan) 6. Sikap yang tidak memihak pada Etika (Dalam pencarian kebenaran ia tidak terikat oleh norma-norma tertentu kecuali mencari bukti ilmiah untuk mengungkapkan sebuah kebenaran) -Ciri-ciri Sosiologi sebagai Ilmu pengetahuan: 1. Bersifat Empiris (Observasi terhadap kenyataan hidup manusia dan akal sehat sehingga hasil penelahaan ilmu tidak bersifat spekulatif) 2. Bersifat Teoritis (Selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi) 3. Bersifat Kumulatif ( Memperbaiki teori yang sudah ada) Perspektif Sosiologi, antara lain: 1. Perspektif Evolusionis Memusatkan perhatian pada pola-pola perubahan dan perkembangan yang muncul di masyarakat Contohnya bagaimana kehidupan ekonomi masyarakat dll 2. Perspektif Interaksionis Memusatkan pada interaksi sosial Hal ini yang akan memunculkan bagaimana sesama manusia bergaul dan bernorma 3. Perspektif Fungsionalis Memusatkan pada perkembangan masyarakat sebagai jaringan sosial Contohnya gotong royong 4. Perspektif Konflik Pertentangan yang terjadi di kehidupan masyarakat Perselisihan dan permusuhan
BAB 2 A. REALITAS SOSIOKULTURAL Adalah kenyataan atau keadaan yang dapat dilihat secara riil yang menyangkut kehidupan manusia didalam suatu kelompok yang disebut masyarakt. Manusia adalah makhluk sosial yang bersifat fungsional dan dinamis, maka masyarakat merupakan rangkaian antar elemen sosial yang membentuk satu kesatuan kerja dalam rangka mendukung kelangsungan hidup.
B. SISTEM SOSIAL C. MASYARAKAT SEBAGAI SISTEM Dari berbagai pendapat Sosiolog dan para ahli tentang masyarakat disimpulkan bahwa “masyarakat adalah sekelompok manusia yang bertempat tinggal di daerah tertentu dalam waktu yang relatif lama, memiliki norma norma yang mengatur kehidupannya menuju tujuan yang dicita-citakan bersama, dan ditempat tersebut anggota-anggotanya melakukan regenerasi (beranak pinak).” Terdapat 3 persyaratan membentuk masyarakat; 1. Terdapat sekumpulan orang 2. Bermukim di wilayah tertentu dalam jangka waktu yang relatif lama 3. Akibat dari hidup ditempat tertentu menghasilkan kebudayaan, sistem nilai, ilmu pengetahuan dan benda-benda material D. STRUKTUR SOSIAL Struktur sosial dipahami sebagai bangunan sosial yang terdiri dari berbagai unsur pembentuk masyarakat. Unsur-unsur ini saling berhubungan antara saru sama lain, artinya kalau ada perubahan dalam salah satu unsur maka unsur yang lain akan mengalami perubahan juga. Koentjoroningrat menjelaskan bahwa struktur sosial adalah kerangka yang menggambarkan kaitan berbagai unsur dalam masyarakat. Struktur Sosial dan Sistem Sosial merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya, sebab struktur sosial lebih ditekankan pada wujud fisik suatu unsur-unsur sosial. Sedangkan sistem lebih mengarah pada mekanisme atau kinerja sistem tersebut yang berupa aturan main dari struktur itu sendiri. Komponennya: a. Status dan Peranan Tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Misalnya: Jabatan, pangkat dll. b. Institusi Sosial Alat untuk mengikuti perilaku anggota masyarakat agar berperilaku sesuai dengan aturan yang menjadi kesepakatan kelompok sosial. c. Pelampiasan Sosial Kemampuan untuk mengakses kebutuhan akan benda-benda yang memiliki nilai sosial ekonomi. - Kualifikasi Positif: Berharta cukup, kaya, lebih kaya dan paling kaya. - Kualifikasi Negatif (Pengelompokkan manusia secara herarkis atas dasar nila-nilai negative) misalnya kemiskinan, lebih miskin , paling miskin. d. Kelompok Sosial Akibat dari konsekuensi dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial yang selalu kecenderungan berkelompok dengan manusia yang lain. e. Dinamika Sosial Merupakan salah satu penelaahan sosiologi yang membahas tentang perubahan-perubahan yang terjadi d dalam kehidupan sosial, hal ini meliputi: - Pengendalian Sosial ( Merupakan cara atau proses baik yang direncanakan maupun yang tidak untuk mengajak agar para anggota masyarakat memenuhi norma dan nilai yang berlaku). - Penyimpangan Sosial (Perilaku sejunlah besar orang yang dianggap tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku sehingga penyimpangan tersebut menghasilkan reaksi-reaksi tertentu seperti celaan ataupun cemoohan. - Mobilitas Sosial ( Merupakan peristiwa dimana individu atau kelompok bergerak atau berpindah kelas sosial satu lapisan sosial lainnya baik pergerakan itu mengarah pada gerak sosial dari lapisan sosial bawah atau sebaliknya. Misalnya: dari miskin menjadi kaya dsb). - Perubahan Sosial ( Pergeseran nilai-nilai, norma-norma sosial, pola-ola perilaku oranisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, pelapisan sosial, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya). E. MASALAH SOSIAL Keadaan sosial dikatakan teratur jika antara elemen sosial satu dan elemen sosial lainnya telah melaksanakan fungsi dan peranannya sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Sebaliknya jika didalam kehidupan sosial antara elemen satu dan elemen lainnya tidak melakukan fungsi dan peranannya sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang brelaku maka keadaan tersebut disebut dengan ketidakaturan sosial. Beberapa contoh masalah sosial, diantaranya: a. Kemiskinan b. Kejahatan c. Disorganisasi keluarga d. Masalah remaja e. Peperangan f. Kelainan seksual g. Masalah kependudukan h. Masalah gender i. Masalah kekerasan BAB 3 PROSES-PROSES SOSIAL Proses Sosial adalah cara berhubungan atau timbal balik antara individu dan individu atau individu dan kelompok dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Interaksi Sosial adalah Hubungan antar manusia secara dinamis antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, atau antara kelompok dan kelompok dalam kerjasama, persaingan maupun pertikaian yang didasarkan pada nilai-nilai dan norma norma yang berlaku dalam masyarakat. Rumus Proses Sosial: Respons + Tindakan + Respons = Produk Tindakan Unsur-Unsurnya: 1. Tindakan Sosial : Tindakan yang terorganisir, tindakan yang tidak terorganisir, identifikasi, dan Simpati. • Tipe-tipe tindakan sosial : - Tindakan sosial rasional instrumental - Tindakan sosial berorinetasi nilai - Tindakan sosial tradisional - Tindakan sosial afektif 2. Kontak Sosial : Aksi individu atau kelompok dalam bentuk isyarat yang memiliki arti (makna) bagi si pelaku dan si penerima membalas aksi tersebut dengan reaksi. Macam-macam kontak sosial: 1. Dilihat dari caranya : Kontak Sosial Langsung Dan Tidak Langsung 2. Dilihat dari sifatnya : Antar individu, individu & kelompok, kelompok dan kelompok 3. Dilihat dari bentuknya : Kontak sosial Positif dan Negatif 4. Dilihat dari tingkat hubungannya : Kontak sosial Primer dan Sekunder 3. Komunikasi Sosial : Proses saling memberikan tafsiran kepada/dari antar pihak yang sedang melakukan dan melalui tafsiran tersebut orang-orang yang saling berhubungan mewujudkan perilaku sebagai reaksi atas maksud atau pesan yang disampaikan oleh pihak lain tersebut. - Sifat-sifat komunikasi : Komunikasi Positif (Misalnya Seorang wanita mengedipkan mata kepada seorang pria yang belum dikenalnya, kemudia mereka saling berkenala dan akhirnya menjalin cinta) Komunikasi negatif ( Misalnya seorang pria yang dilempar sandal oleh wanita yang menjadi tujuan suilannya. 4. Proses Sosial : Assosiatif dan Disasosiatif Assosiasif adalah proses sosial yang di dalam realitas sosial anggota-anggota masyarakatnya dalam keadaan harmoni yang mengarah pada pola-pola kerjasama. 1. Kerja sama (co-operation) : proses tawar menawar, kooptasi, koalisi 2. Akomodasi: Coercion (Paksaan) Compromise (Kompromi) Arbiratian (Arbriter) Mediation ( Orang ke-3) Concilioation (Melalui Kelembagaan) Stalemate ( Melalui Perantara) Adjuction (Melewati Pengadilan) 3. Asimilasi Syarat asimilasi: a. Kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya b. Orang-perorangan sebagai warga kelompik tadi saling bergaul secara langsung c. Kebudayaan dari kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan Disasosiatif adalah keadaan realitas sosial dalam keadaan disharmoni sebagai akibat adanya pertentangan antar anggota-anggota masyarakat. Proses-prosesnya: 1. Persaingan 2. Kontravensi 3. Pertentangan dan pertikaian : pribadi, rasial, antar kelas, antar golongan, internasional PRODUK DARI INTERAKSI SOSIAL a. Keteraturan sosial dan ketidakaturan sosial b. Kelompok-kelompok sosial 1. Kelompok sosial yang teratur 2. Kelompok sosial yang tidak teratur (kerumunan, public) c. Kelas sosial d. Peranan sosial e. Organisasi sosial - Organisasi formal, ex: PSSI,PWI,LSM - Organisasi informal, ex: karang taruna, kelompok pecinta music underground, dsb. - “ Gambar disamping merupakan Logo dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang merupakan salah satu contoh Organisasi Formal karena organisasi ini melalui proses mekanisme yang formal, artinya prosedur-prosedur organisasi yang dilaluinya formal sehingga program kerja, struktur organisasinya jelas.” BAB 4 NILAI-NILAI DAN NORMA SOSIAL Nilai adalah sesuatu yang dianggap baik, patut, layak, pantas yang keberadaanya dicita-citakan dan diinginkan bersama. Norma adalah pedoman atau petunjuk yang mengarahkan perilaku manusia didalam kelompok. A. Pengertian Nilai Sosial dan Norma Sosial a. Nilai sosial (sosial value) Nilai-nilai sosial merupakan hal yang dituju oleh kehidupan sosial itu sendiri, sedangkan metode pencapaian nilai-nilai (tujuan) sosial tersebut adalah norma, sehingga fungsi norma sosial adalah sebagai petunjuk atau arah tentang cara untuk mencapai nilai atau tujuan tersebut. Dalam hal ini Notonegoro membedakan nilai menjadi tiga, yaitu: 1. Nilai material, yaitu meliputi berbagai konsepsi tentang segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia. 2. Nilai vital, yaitu meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktifitas. 3. Nilai kehormatan, yakni meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia, seperti: a. Nilai kebenaran : Bersumber pada rasio (akal manusia) b. Nilai keindahan : Bersumber pada unsur perasaan c. Nilai moral : Bersumber pada sumber kehendak, terutama pada tingkah laku manusia antara penilaian perbuatan yang dianggap baik ataupun buruk d. Nilai keagamaan : Bersumber pada kitab suci (wahyu tuhan) B. FUNGSI NILAI SOSIAL 1. Faktor pendorong cita-cita atau harapan bagi kehidupan sosial. Misalnya, dalam pembukaan UUD 1945 direncanakan nilai-nilai yang merupakan tujuan kehidupan berbangsa dan berbegara. 2. Petunjuk arah seperti berfikir, berperasaan, dan bertindak dan panduan dalam menimbang penilaian masyarakat, penentu, dan terkadang sebagai penekan para individu untuk membuat dan bertindak sesuai dengan nilai yang berlaku. 3. Alat perekat solidaritas didalam kehidupan kelompok. 4. Benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat. C. NILAI BUDAYA Merupakan konsep abstrak mengenai masalah dasar dan bersifat umum yang sangat penting serta bernilai bagi kehidupan masyarakat. D. NORMA MORAL Nilai moral dalam etika atau filsafat moral. Digunakan untuk pernyataan faktual dan pernyataan normatif. Nilai dibedakan dengan fakta dan norma. Fakta adalah apa yang ada, apa yang terjadi, sedangkan norma ialah dalam sehari-hari diungkapkan dengan kata-kata antara lain, harusnya, selayaknya, sebaiknya, dll. Norma moral berasal dari bahasa mos (jamak; mores) yang berarti adat, cara bertindak. Kebiasaan, norma dan moral berarti aturan bagi kelakuan atau tindakan dan sekaligus ukuran apakah seseorang itu baik atau tidaknya. Norma moral yang berlaku dimasyarakat diantaranya: 1. Norma agama 2. Norma kesopanan 3. Norma kesusilaan 4. Norma hukum E. PROSES PERTUMBUHAN NORMA SOSIAL Pada dasarnya, proses pertumbuhan norma terbentuk melalui proses sosial yang tidak disengaja atau dibuat melalui proses yang tidak disadari oleh perseorangan ataupun kelompok. Namun bisa dikelompokkan.: - Cara (Usage) : Dengan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku - Kebiasaan (Folkways) : Aktivitas yang dilakukan secara berulang - Tata Kelakuan (Mores) : Pencerminan sifat-sifat yang dilaksanakan sebagai pengawas - Adat Istiadat (Costums) : Pola-pola kelakuan yang tidak tertulis tetapi mengikat - Hukum (Laws) : Tata Kelakuan sosial yang dibuat secara formal dengan sanksi F. PERUBAHAN NILAI DAN NORMA SOSIAL Perubahan (transformasi) nilai merupakan sesuatu persoalan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, artinya seberapa kukuhnya masyarakat penganut nilai-nilai tertentu, ketika transformasi dunia berjalan dengan cepat. “ Televisi merupakan media paling dominan mempengaruhi transformasi nilai-nilai” Tidak ada kehidupan masyarakat yang statis, tiap kehidupan masyarakat pasti terdapat perubahan. Akan tetapi, yang penting bukan perubahan itu sendiri, melainkan arti dan tujuan dari perubahan itulah yang lebih penting. Dengan demikian, perubahan itu harus direncanakan, terutama menyiapkan tingkat kesiapan mental manusianya sebagai subjek dari perubahan aar perubahan tidak membawa ekses yang negative. Perubahan yang baik adalah perubahan adalah perubahan yang direncanakan dengan seperangkat tujuan yang jelas, yaitu pembangunan. BAB 5 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN A. PENGERTIAN SOSIALISASI Secara sederhana, sosialisasi dapat diartikan sebagai proses belajar bagi seseorang atau sekelompok orang selama hidupnya untuk mengenali pola-pola hidup, nilai-nilai norma dan sosial agar ia dapat berkembang menjadi pribadi yang bisa diterima oleh kelompoknya. Melalui proses sosialisasi seseorang atau sekelompok menjadi mengetahui dan memahami bagaimana ia atau mereka harus tahu bertingkah laku dilingkungan masyarakatnya. Juga mengetahui, dan mejalankan hak-hak dan kewajiban berdasarkan peranan-peranan yang dimiliki. B. PROSES PELAKSAAAN SOSIALISASI Dalam pelaksaannya, sosialisasi dilakukan dengan cara: 1. Sosialisasi refreshif Penekanan kepatuhan, pada komunikasi satu arah (instruksi) 2. Sosialisasi partisifatif Berupa rangsangan tertentu agar pihak yang tersosialisasi mau melakukan suatu tindakan Dilain pihak, proses sosialisasi juga dilakukan atas dasar kesamaan dan kooprasian, antara pihak yang melakukan sosialisasi dengan pihak yang disosialisasikan. Proses ini disebut Proses Sosialisasi Ekualitas. C. PROSES INTERNALISASI Internalisasi adalah proses yang dilakukan oleh pihak yang tengah menerima proses sosialisasi. Kendati proses internalisasi dikatakan sebagai proses penerimaan sosialisasi, namun proses ini tidaklah bersifat pasif, akan tetapi merupakan proses aktifitas pedagogis yang bersifat aktif juga. D. MACAM-MACAM SOSIALISASI Robert Lawang membagi sosialisasi menjadi dua macam: 1. Sosialisasi Primer Proses yang terjadi pada saat kita msih balita karena ia dibekali oleh orang sekitarnya dan dibekali kemampuan untuk mengenal dirinya, maupun sekitarnya. 2. Sosialisasi Sekunder Sosialisasi yang berlangsung setelah sosialisasi Primer. Koetjoroningrat menyebut sosialisasi sebagai proses enkultarasi (pembudayaan). Pembudayaan diartikan sebagai “pembiasaan” artinya dalam proses pembudayaan. Seseorang individu mempelajari dan menyesuaikan dirinya dengan alam pemikirannya dan menyesuaikan sikapnya dengan ada istiadat setempat. E. KEPRIBADIAN (PERSONALITY) Kepribadian merupakan kecenderungan psikologi seseorang untuk melakukan budi pekerti sosial tertentu termasuk diantaranya: meliputi perasaan, kehendak, fikiran sikap, dan tingkah laku yang terbuka. Kepribadian berada ditengah-tengah jiwa seseorang yang tumbuh secara berangsur-angsur didalam jiwa warga masyarakat akibat dari proses sosialisasi atau internalisasi. Pengertian kepribadian mencakup tiga hal, yaitu: 1. Merupakan abstraksi dari pola prilaku manusia 2. Merupakan ciri watak yang khas dan konsistensi sebagai identitas seorang individu 3. Mencakup kebiasaan, sikap, dan nilai-nilai sifat yang khas apabila seseorang berhubungan dengan orang lain. a. Fase-fase pembentukan kepribadian manusia Perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh empat faktor yang saling mendukung. Yaitu: 1. Warisan biologis 2. Warisan lingkungan alam 3. Warisan sosial 4. Kelompok manusia b. Unsur-unsur kepribadian Beberapa unsur kepribadian sebagaimana dalam kajian-kajian ilmu-ilmu sosial diantaranya meliputi: 1. Unsur pengetahuan 2. Unsur perasaan 3. Unsur dorongan hati (naluri) F. MEDIA SOSIAL Sosialisasi tidak akan berjalan jika tidak ada peran media sosialisasi, adapun media sosialisasi yang otomatis memiliki peran tersebut adalah lembaga sosial. Lembaga-lembaga yang saling berhubungan tersebut memerankan sebagai agen sosialisasi atau media sosialisasi. Beberapa agen sosialisasi dalam sosioligi yaitu: 1. Keluarga 2. Kelompok 3. Lingkungan pendidikan Beberapa hal yang ditanamkan dalam lingkungan ini: - Kemadirian - Prestasi - Universalisme 4. Keagamaan 5. Lingkungan sosial 6. Media masa. “ Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi, sebab kondisi keluarga: - Kelompok Primer yang selalu bertatap muka - Orang tua memiliki kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya - Adanya hubungan sosial yang tetap” BAB 6 PERILAKU MENYIMPANG DAN ANTISOSIAL “Perilaku yang benar merupakan tindakan yang sesuai dengan norma-norma yang diterima oleh masyarakat banyak atau norma umum. Sedangkan perilaku menyimpang merupakan tindakan yang berlawanan yang berlaku didalam masyarakat.” A. BATASAN PERILAKU MENYIMPANG Seorang dikatakan berperilaku menyimpang apabila menurut anggota sebagian masyarakat (minimal disuatu kelompok tertentu) perilaku/tindakan diluat adat istiadat, kebiasaan, nilai dan norma-norma yang berlaku di lingkungan tersebut. Atau bisa disimpulkan adalah “semua perilaku manusia yang dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam kelopmpok tersebut” B. RELATIVITAS PERILAKU MENYIMPANG Setiap orang yang baru menempati suatu wilayah sosial tersebut, baik itu baru dilahirkan maupun pendatang, akan senantiasa diarahkan atau diasosialisai oleh kelompok diwilayah itu untuk berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku diwilayah itu. Sebab munculnya perilaku menyimpang banyak macamnya, yaitu selain dorongan dari dalam dirinya juga karena faktor yang berasal dari luar, seperti pola-pola kelakuan yang dibiasakan.Misalnya anak kecil laki-laki yang sudah dibiasakan dengan peralatan perempuan, kelak ia akan berperilaku seperti perempuan pada umumnya. C. SIFAT NILAI DAN NORMA SOSIAL Nilai dan norma sosial yang berlaku didalam masing-masing kelompok sosial bersifat relatif. Maksudnya adalah nilai atau norma yang berlaku didalam kelompok satu mungkin atau bisa saja tidak berlaku dikelompok lainnya Perilaku menyimpang dibedakan menjadi dua: a. Penyimpangan positif : Penyimpangan yang terarah pada nilai nilai sosial yang ideal, walupun cara/ tindakan yang dilakukan kelihatan menyimpang dari norma-norma b. Penyimpangan negatif : Kecenderungan bertindak kearah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan akibatnya selalu buruk. D. CIRI-CIRI PERILAKU MENYIMPANG Paul Horton mengemukakan enam: 1. Penyimpangan harus dapat didefinisikan 2. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak 3. Penyimpangan relative dan penyimpangan mutlak 4. Penyimpangan terhadap budaya nyata dan budaya ideal 5. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan 6. Penyimpangan sosial bersifat adaptif Perlunya Perilaku Menyimpang Dipelajari >> Tujuan mempelajari perilaku menyimpang bukan agar kita menjadi menyimpang, melainkan untuk mengetahui apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimana melakukan pencegahannya. IlmuYang Mempelajari Perilaku Menyimpang >> Selain sosiologi disiplin ilmu yang mempelajari perilaku menyimpang diantaranya psikologi, antropologi, ilmu hokum dan kriminologi. E. EMPAT DIMENSI TENTANG PERILAKU MENYIMPANG 1. Secara statistical 2. Secara absolut dan mutlak : sudah ada sejak dulu tanpa terkecuali 3. Secara reaktif : berkenaan dengan agen, contoh: penjahat 4. Secara normative : pelanggaran norma sosial yang sudah dicap Menjadi Menyimpang > > tindakan menyimpang baik primer maupun sekunder, tidak terjadi begitu saja tetapi berkembang melalui periode waktu dan juga sebagai hasil dari serangkaian tahapan interaksi yang melibatkan interprestasi tentang kesempatan untuk bertindak menyimpang. Penyimpangan dan Norma Baru >> dalam proses interaksi sosial tidak selalu menghasilkan norma yang positif sebab aksi interaksi yang bersifat negative juga akan menghasilkan produk norma yang negative pula. F. JENIS-JENIS DAN SEBAB-SEBAB PENYIMPANGAN SOSIAL a. Penyalah gunaan Narkotika b. Efek penggunaan obat-obatan c. Perkelahian antar pelajar d. Perilaku hubungan seks di luar nikah e. Homoseks f. Alkoholisme G. SEBAB TERJADINYA PERILAKU MENYIMPANG 1. Sikap mental yang tidak sehat 2. Ketidak harmonisan dalam keluarga 3. Pelampiasan rasa kecewa 4. Dorongan kebutuhan ekonomi 5. Pengaruh lingkungan dan media masa 6. Keinginan untuk dipuji 7. Proses belajar yang menyimpag 8. Ketidk sanggupan menerima norma 9. Proses sosialisasi nilai-nilai subcultural menyimpang 10. Kegagalan dalam proses sosialisasi 11. Adanya ikatan sosial yang berlainan H. ANTISOSIAL Adalah kepribadian seseorang yang menunjukkan keacuhan, ketidakpedulian, atau bahkan permusuhan yang seronok kepada oranglain, terutama yang berkaitan dengan norma sosial dan budaya Karakteristik dari seorang antisosial adalah: a. Asosial (Penyendiri) b. Introver (Ketertutupan) Teori perilaku menyimpang dari Perspektif Sosiologis bisa digambarkan dengan perspektif Individualistis dan Teori-teori Sosiologi. “ Narkotika dan obat-obatan terlarang merupakan salah satu jenis zat adiktif, yaitu zat yang mengakibatkan ketergantungan apabila dikonsumsi dan menimbulkan kerusakan pada jaringan syaraf dan psikomotorik ”. BAB 7 PENGENDALIAN SOSIAL Pengendalian sosial adalah suatu proses yang direncanakan atau tidak direncanakan yang mengajak, membimbing, bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat. A. PERLUNYA DILAKUKAN PENGENDALIAN SOSIAL Faktor penyebab masyarakat berperilaku menyimpang: 1. Kaidah-kaidah sosial yang ada tidak memuaskan bagi pihak tertentu atau karena tidak memenuhi kebutuhan dasarnya. 2. Kaidah sosial yang ada kurang jelas perumusannya sehingga menimbulkan aneka penafsian dan penetapan 3. Didalam masyarakat terjadi konflik antara peranan yang dipegang warga masayrakat 4. Tidak mungkin untuk mengatur semua kepentingan warga masyarakat secara merata. B. SIFAT-SIFAT PENGENDALIAN SOSIAL a. Pengendalian Sosial Preventif : Segala bentuk pengendalian sosial yang berupa pencegahan atas perilaku menyimpang agar dalam kehidupan sosial tetap kondusif Contohnya: Seorang dosen yang memberi tugas kepada mahasiswa untuk mengerjakan karya tulis ilmiah sebagai langkah untuk mencegah agar mahasiswa tidak terlalu banyak waktu luang kala senggang. b. Pengendalian Sosial Refrensif : Bentuk pengendalian sosial yang bertujuan untuk mengembalikan kekacauan sosial/ mengembalikan situasi deviasi menjadi keadaan kondusif kembali. Contohnya: Polisi menggrebek rumah kontrakan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan ganja C. CARA-CARA PENGENDALIAN SOSIAL a. Persuasif : Pengendalian dengan cara damai, melalui bimbingan atau ajakan b. Koersif : Pengendalian dengan cara paksaan atau kekerasan. Biasanya, akan diambil langkah sebagai penyetabil sosial: a. Kumpulsi (Paksaan) Keadaan yang sengaja diciptakan oleh yang berwenang agar seseorang atau sekelompok orang dengan terpaksa menuruti atau mengubah sifatnya b. Pervasi (Pengisian) Suatu cara penanaman atau pengenalan norma secara berulang-ulang D. SANKSI SEBAGAI SARANA KONTROL SOSIAL 1. Sanksi Fisik : Sanksi yang mengakibatkan penderitaan fisik Misalnya : didera, dpenjara, diikat dsb 2. Sanksi Psikologi : Sanksi dengan beban kejiwaan Missal: dicopot kepangkatannya di suatu upacara dll 3. Sanksi Ekonomik : Sanksi kepada pelanggar norma berupa pengurangan benda dalam bentuk penyitaan dan denda. Missal: membayar ganti rugi, membayar denda dsb E. FUNGSI PENGENDALIAN SOSIAL Menurut Koentjoroningrat, pengendalian sosial memiliki 5 fungsi: 1. Mempertebal keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma 2. Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma 3. Mengembangkan rasa malu 4. Mengembangkan rasa takut 5. Menciptakan sistem hukum F. JENIS-JENIS LEMBAGA PENGENDALIAN SOSIAL 1. Lembaga pengendalian sosial formal a. Lembaga kepolisian b. Lembaga pengadilan c. Lembaga pendidikan dan sekolah 2. Lembaga pengendalian sosial informal a. Lembaga adat b. Lembaga keagamaan c. Tokoh masyarakat d. Organisasi-organisasi sosial seperti LSM dan sebagainya e. Lembaga penyiaran dan pemberitaan BAB 8 LEMBAGA KEMASYARAKATAN Sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat melakukan interaksi menurut pola-pola yang sudah terstruktur di dalam masyarakat, yang didalam istilah sosiologi dinamakan pranata sosial dalam bahasa Inggris disebut instituation. Dalam bahasa Indonesia pertukaran arti juga terjadi, istilah Indonesia untuk institute adalah “lembaga”, maka sesuai daengan itu dalam bahasa surat kabar dan bahsa popular di Indonesia sering dibaca istilah “dilembagakan”. Padahal antara pranata dan lembaga harus diadakan pembedaan secara tajam. Pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai aktivitas masyarakat khusus yang berupa perilaku yang diwijudkan dalam bentuk tingkah laku, sedangkan lembaga atau institute adalah badan atau organisasi yang melaksanakan aktivitas itu. A. FUNGSI LEMBAGA KEMASYARAKATAN: 1. Memberikan pedoman kepada anggota masyarakat 2. Menjaga keutuhan dari masyarakat yang bersangkutan 3. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial Ahli sosiolog menggolongkan lembaga sosial berdasarkan fungsinya: 1. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi kehidupan kekerabatan Misalnya: Perkawinan 2. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun,menyimpan (ekonomi). pertanian, peternakan 3. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan penerangan dan pendidikan. perpustakaan umum 4. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia, menyelami alam semesta sekelilingnya penelitian, pendidikan ilmiah 5. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia untuk menghayatkan rasa keindahanya dan untuk rekreasi seni drama, kesustraan 6. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia untuk berhubungan dengan dan berbakti kepada Tuhan. semedi, penyiaran agama 7. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia untuk mengatur dan mengelola keimbangan kekuasaan dalam kehidupan masyarakat demokrasi, kehakiman 8. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan fisik dan kenyamanan hidup manusia pemeliharaan kecantikan B. CIRI-CIRI UMUM LEMBAGA KEMASYARAKATAN 1. Memiliki pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang terwujud melalui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya 2. Memiliki kekekalan tertentu 3. Mempunyai tujuan-tujuan tertentu 4. Mempunyai alat-alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan 5. Mempunyai lambing-lambang yang menggambarkan tujuan lembaga tersebut 6. Mempunyai tradisi yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang merumuskan tujuan, tata tertib yang berlaku Lembaga-lembaga perkawinan mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut: a. Pengatut perilaku seksual manusia dalam pergaulan b. Pengatur pembagian hak dan kewajiban, bagi suami, istri dan anak-anak c. Unutk memenuhi kebutuhan manusia akan kawan dan pasangan d. Untuk memenuhi kebutuhan manusia akan benda materil e. Untuk memenuhi kebutuhan manusia akan prestise f. Untuk memelihara interaksi antar kelompok sosial C. TIPE-TIPE LEMBAGA KEMASYARAKATAN Menurut gillin dan Gillin (General Features of Sosial Institution) dapat diklarifikasikan sebagai berikut: 1. Crescive Instituation : yang tumbuh tak sengaja dari adat istiadat 2. Daari sudut sistem nilai-nilai yang diterima masyarakat. Basic instituation : memelihara dan mempertahankan tata tertib masyarakat. Subsidiary instituation: rekreasi 3. Sosial sanctioned institution: lembaga yang diterima masyarakat, Unsanctioned institution: lembaga yang ditolak 4. general instituation: lembaga yang umum dikenal masyarakat. Restriced instituation: lembaga yang lebih specific dan dikenal secara khusus 5. Dari sudut fungsi. Operative instituation: lembaga menghimpin pola-pola / tata carayang diperlukan mencapai tujuan lembaga tersebut D. PROSES PERTUMBUHAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN Proses pertumbuhan diantaranya: pertama diterima oleh sebagian besar anggota masyarakat tanpa dal kalangan yang menolak. Kedua norma tersebut menjiwai seluruh anggota masyarakat. Ketiga norma tersebut harus mempunyai sanksi yang mengikat setiap anggota masyarakat. Proses pertumbuhan lembaga sosial dibedakan menjadi empat macam. Diantaranya: [1]cara (usage), [2] kebiasaan (folkways),[3] tata kelakuan (mores), [4] adat istiadat (customs) [5] hukum (laws). E. PRANATA SOSIAL Ciri-cirinya adalah: - Merupakan sistem pola pemikiran dan pola yang tersusun atau terstruktur - Mencakup kebutuhan dasar (basic need) - Merupakan cara (bertindak) yang mengikat - Suatu tingkat kekekalan tertentu - Mempunyai satu atau beberapa tujuan - Mempunyai alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan - Memiliki lambang atau simbol sebagai cirinya - Mempunyai tradisi tertulis maupun yang tidak tertulis Pranata sosial mempunyai fungsi: 1. Pranata keluarga : keluarga merupakan lembaga sosial dasar sebagai titik awal dari suatu lembaga. Istilah keluarga: a. Kelompok yang memiliki nenek moyang yang sama b. Kelompok kekerabatan yang disatikan oleh ikatan darah dan perkawinan c. Pasangan perkawina dengann atau tanpa anak d. Pasangan nikah ynag mempunyai anak e. Satu orang duda atau janda dengan beberapa anak 2. Pranata ekonomi : Lahir ketika ketika masyarakat mulai menadakan pertukaran barang secara rutin. Beberapa factor yang menentukan pranata ekonomi: a. Gathering atau perkumpulan b. Prodiction atau produksi c. Servisting atau jasa Perkembangan masyarakat dan tipe pranata ekonomi: 1. Mayarakat pencari makanan dan pemburu. 4. Masyarakat kapitalis 2. Masyarakat holikultural 5. Masyarakat sosial. 3. Masyarakat prakapitalis 3. Pranata politik : asosiasi yang paling berdaulat yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, menekankan dua hal : a. Pranata poliitik mempunyai kewenangan menggunakan kekuatan fisik b. Pranata politik mampu memenuhi kebutuhan sendiri Fungi pranata politik ; pemaksaan norma; merencanakan dan mengarahkan; memenuhi pertentangan kepentingan; melindungi masyarakat. 4. Pranata agama : Setiap agama memiliki unsur-unsur yakni kepercayaan, simbol, praktik agama, penganut agama, dan pengamalan agama 5. Pranata pendidikan : pendidikan adalah proses yang terjadi karena interaksi berbagai factor yang menghasilkan penyadaran diri dan penyadaran lingkungan, sehingga menampilkan rasa percaya diri dan rasa percaya akan lingkungan sekitar Fungsi pokok : a. Bertindak sebagai perantara pemindahan warisan kebudyaan b. Memberikan persiapan bagi peranan pekerjaan c. Mempersiapkan peranan sosial yang dikehendaki oleh individu d. Memberi landasan penilaian danpemahaman status relative e. Memperkuat diri dan menegmbangkan hubungan sosial f. Meningnkatkan kemajuan melalui keikutsertaan dalam riset-riset ilmiah F. TERTIB SOSIAL Tanpa hukum tidak ada ketertiban, dan tanpa ketertiban kehidupan mansuia akan menjadi kacau. Suatu sistem hubungan yang tertib adalah kondisi utama bagi kehidupan masyarakat pada berbagai level kehidupannya tanpa membeda-bedakan kelas sosial dan kelompok sosial. Bahkan segerombolan penjahat, perampok, pemberontak Negara masing-masing memiliki kode hukumnya sendiri-sendiri yang harus mereka patuhi. BAB 9 KONFLIK DAN INTEGRITAS SOSIAL Konflik merupakan gejala sosial yang serba hadir dalam kehidupan sosial, sehingga konflik bersifat inheren, artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap ruang dan waktu. A. KONFLIK Etimologis : Bahasa latin “con” yang berarti bersama dan “fligere” yang berarti beraturan atau tabrakan Terminologis : “ Perselisihan atau persengketaan antara dua atau lebih kekuatan baik secara individu ataupun kelompok yang kedua belah pihak memiliki keinginan untuk saling menjatuhkan atau menyingkirkan atau mengalahkan atau bahkan menyisihkan.” B. MACAM-MACAM KONFLIK 1. Konflik gender 2. Konflik rasial dan antarsuku 3. Konflik antar umat agama 4. Konflik antar golongan 5. Konflik kepentingan 6. Konflik antar pribadi 7. Konflik antar kelas sosial 8. Konflik antar Negara atau Bangsa C. AKAR PENYEBAB KONFLIK Adanya hubungan sosial, ekonomi, politik yang akarnya adalah perbuatan atas sumber-sumber kepemilikan. Pada dasarnya secara sederhana penyebab konflik dibagi dua yaitu: 1. Kemajemukan Horizontal. Yang artinya adalah struktur masyarakat yang majemuk secara kultural, seperti suku bangsa, ras, dan majemuk secara sosial dalam arti perbedaan pekerjaan atau profesi. 2. Kemajemukan Vertical. Yang artinya struktur masyarakat yang terpolarisasi berdasarkan kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan. Dalam pandangan lain: 1. Perbedaan antara individu 2. Bantuan antar kepentingan baik secara ekonomi maupun politik 3. Perubahan sosial 4. Perbedaan kebudayaan D. AKIBAT KONFLIK SOSIAL Ada banyak konflik, akan tetapi para sosiologi sepakat menyimpulkan akibat dari konflik tersebut kedalam lima poin: 1. Bertambah kuatnya rasa solidaritas kelompok 2. Hancurnya kesatuan kelompok 3. Adanya perubahan kepribadian individu 4. Hancurnya nilai-nilai norma sosial yang ada 5. Hilangnya harta benda (material) dan korban manusia E. FUNGSI KONFLIK SOSIAL Dalam pandangan Coser, konflik sosial memiliki fungsi positif diantaranya: 1. Konflik dapat meningkatkan solidaritas kelompok. 2. Konflik dengan kelompok terlalu akan menimbulkan tarik-menarik antara satu kelompok dengan yang lainnya. 3. Konflik dalam masyarakat biasanya akan menggugah warga masyarakat yang semula pasif akan menjadi aktif. 4. Konflik memiliki komunikasi. F. INTEGRASI SOSIAL Penyelarasan berbagai perbedaan agar dapat mencapai kesatuan kehidupan dalam suatu wadah baik dalam wadah asosiasi sosial maupun yang lebih besar lagi atau Negara. a. Macam-macam integrasi sosial 1. Integrasi Keluarga 2. Integrasi Kerabat 3. Integrasi Asosiasi 4. Integrasi Masyarakat 5. Integrasi Suku Bangsa 6. Integrasi Bangsa b. Faktor-faktor pendorong terjadinya integrasi sosial 1. Primodial 2. Sakral 3. Tokoh 4. Bhineka Tunggal Ika 5. Perkembangan ekonomi 6. Hegemoni kelompok 7. Besar kecilnya kelompok 8. Mobilitas Sosiografi 9. Efektifitas dan efesiensi komunikasi . BAB 10 STRATIFIKASI SOSIAL POLITIK DI DALAM MASYARAKAT INDONESIA “ Stratifikasi lebih merujuk pada pengelompokan orang ke dalam tingkatan atau strata dalam hirearki secara vertikal. Kelas sosial lebih merujuk pada satu lapisan atau strata tertentu, dalam sebuah stratifikasi sosial.” A. PELAPISAN SOSIAL DAN KESETARAAN Pembaharuan yang dicanangkan melahirkan pergeseran yang pula menimbulkan sejumlah teori pelapisan sosial, tetapi lebih mengacu pada urutan atau tatanan yang herarkis seperti tinggi vs rendah, unggul vs biasa, superior vs inferior, priyayi vs wong cilik dan lain sebagainya hal ini selalu tercakup dalam lapisan sosial. B. DETERMINASI STRATIFIKASI SOSIAL menjadi 3 macam: C. BENTUK-BENTUK STRATIFIKASI SOSIAL Bentuk-bentuknya dapat dicermati dalam masyarakat seperti majikan dengan buruh, antar penguasa dan rakyat, antar kelompok intelektual dan kelompok awam, antara santri dan kiyai, dan antara orang kaya dan orang miskin. D. KELAS SOSIAL Terdiri dari sejumlah orang yang memiliki status sosial yang baik, yang diperoleh berdasarkan kelahiran, ataupun perjuangan untuk meraih status sosial. Dalam kehidupan sosial selalu ada penggolongan manusia dalam kelompok dengan berbagai kriteria yang melekat pada masing-masing anggota kelompok tersebut. E. F. BENTUK STRATIFIKASI SOSIAL DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI a. Perbedaan dalam kesanggupan dan kemampuannya Contoh; pegawai tingkat I atau II tentu akan mampu membeli sepeda motor ketimbang pegawai tingkat IV yang kebanyakan mampu membeli mobil b. Perbedaan Gaya Hidup - Perbedaan cara berpakaian - Gaya Bicara - Sebutan gelar - Jenis kegiatan c. Perbedaan dalam hal Hak dan Akses memanfaatkan Sumber Daya Contoh; Telepon genggam dan gadget yang dipakai seorang direktur tentu berbeda dengan telepon genggam yang dimiliki seorang kuli bangunan. BAB 11 DIFERENSIASI DAN KEMAJEMUKAN SOSIAL Perbedaan yang hanya dapat diklasifikasikan secara horizontal(lapisan tinggi, menengah dan rendah) dan sebagai pembeda/pemilah masyarakat kedalam golongan dan kelompok yang secara horizontal pula. A. PERBEDAAN ANTARA DIFERENSIASI DAN STRATIFIKASI SOSIAL Perbedaan masyarakat secara vertikal disebut stratifikasi sosial, sedangkan perbedaan masyarakat secara horizontal disebut diferensiasi sosial. Startifikasi lebih kepada ketimpangan distribusi dan kalangan barang berharga yang dibutuhkan masyarakat seperti uang dan kekuasaan. Bentuk-bentuk diferensiasi sosial digolongkan sebagai berikut: Diferensiasi Biologis Diferensiasi jenis kelamin : Faktor sosiokultural telah memberikan penilaian perbedaan antara wanita dan pria dari sudut pandang secara biologis, psikologis dan sosiokultural. Diferensiasi Umur : Penggolongan manusia berdasarkan umur melahirkan berbagai hak, kewajiban dan kewenangan. Diferensiasi Ras : Ras merupakan pengidentifikasian manusia yang didasarkan pada ciri morfologis pada fisik seseorang yang didimonasi oleh karakter genetik. Diferensiasi Intelektual : Intelegensi manusia adalah kemampuan daya nalar atau daya tangkap sesorang melalui akal pikiran yang kapasitas besar kecilnya sangat tergantung pada besar kecilnya kapasitas otak kepala. Diferensiasi Sosiokultural Diferensi Suku Bangsa : Sekelompok masyarakat memiliki corak kebudayaan yang khas atau golongan manusi yang terikat kesadaran dan jati dirinya akan kesatuan kebudayaan, sehingga kesatuan kebudayaan tersebut tidak ditentukan oleh orang luar melainkan warga kebudayaan yang bersangkutan. Diferensiasi Agama : Agama sebagai suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal hal yang suci (sakral), serta kepercayaan dan praktik tersebut mempersatukan dalam komunitas moral yang disebut “iman”. Diferensiasi Klan : Klan adalah bagian sebuah suku bangsa yang merupakan kesatuan kecil dari kerabat secara unilateral. Diferensiasi Profesi Profesi adalah bidang pekerjaan/keahlian yang menjadi kebiasaan yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya B. DAMPAK DIFERENSIASI SOSIAL Positif sebagai kekayaan budaya yang dapat dijadikan modal dasar dalam pembangunan. Dengan syarat memahami perbedaan antar kelompok. Negatif Sebagai sumber pemicu disintregasi sosial, jika tiap kelompok yang berbeda saling mengepentingkan kelompoknya. C. BENTUK KONSEKUESI DARI KEMAJEMUKAN SOSIAL BANGSA: 1. Interaksi sosial persilangan Dampak dalam masyarakat majemuk : peningkatan solidaritas, timbulnya potensi konflik a. Hubungan ekonomi : melalui perdagangan dan perindustrian b. Hubungan sosial : Melalui perkawian dan pendidikan c. Politik : Hubungan diplomatik d. Konsolidasi : Proses penguatan/peneguhan keanggotaan individu atau beberapa kelompok sosial yang berbeda. 2. Akulturasi > proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur suatu kebudayaan asing. Beberapa wujud akulturasi : bahasa, religi, organisasi sosial kemasyarakatam, sistem pengetahuan, tekhnologi, kesenian. 3. Hubungan primodialisme > kedaerahan 4. Hubungan Paternalisme > mempraktikan pengaruh/pengendalian didalam pola hubungan kebapaan 5. Politik Aliran > Dilatar belakangi oleh gejala in group/ primary group yang memiliki sikap etnosentris. D. DIFERENSIASI DAN DISORGANISASI SOSIAL Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya menjadi faktor yang menyebabkan disintregasi sosial E. MEMBANGUN TOLERANSI DALAM PLURALISME Prularisme adalah syarat mutlak agar bangsa Indonesia yang begitu majemuk dapat bersatu dan bangsa yang tidak menghargai pluralism adalah banga yang membunuh dirinya sendiri. Yang penting dalam kehidupan masyarakat pada majemuk adanya pengakuan dan penerimaan akan perbedaan. F. TOLERANSI MEMPERKUAT KETAHANAN SOSIAL Modal untuk membangun toleransi sebagai nilai kebijakan: 1. Toleransi membutuhkan interaksi sosial melalui percakapan dan pergaulan yang intensif. 2. Membangun kepercayaan diantara berbagai kelompok dan aliran. G. MEMBANGUN PLURALISME AGAMA Penolakan pluralisme agama sering disebabkan oleh kesalahpahaman atas konsep pluralism. Pluralism yang dipahami adalah menganggap bahwa semua agama sama. Oleh sebab itu, peran public agama harus dilakukan bersama dalam dialog membentuk kebaikan dan kemashlahatan bersama. Untuk itu dari tiap kelompok agama diperlukan “kebijakan agung” yang mencakup semangat kerjasama, adil dan toleransi. Dengan kembali menjiwai ke Bhinekaan dan menjamin hak-hak kelompok minoritas untuk menghindari Negara kita dari diintegrasi yang kelak menjadi petaka. BAB 12 MOBILITAS SOSIAL : TEORI DAN APLIKASI Proses keberhasilan seseorang mencapai jenjang sosial yang lebih tinggi atau kegagalan seseorang hingga jatuh di kelas sosial yang rendah. Poin-poin mobilitas sosial: - Gerakan sosial vertikal yang benar-benar bebas maupun yang benar-benar tertutup tidak berlaku bagi semua orang - Laju mobilitas Vertikal dapat dipengaruhi baik oleh Politik, Ekonomi, dsb A. TIPE-TIPE MOBILITAS SOSIAL Gerak dalam struktur vertikal, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi kelompok sosial. Tipe-tipe gerak sosial : Gerak sosial Horizontal : Peralihan individu/objek-objek sosial lainnya dalam posisi yang sederajat. Gerak sosial Vertikal : Perpindahan individu atau objek sosial dari kedudukan sosial yang satu kedudukan sosial lainnya dalam posisi yang tidak sederajat. B. KONSEKUENSI MOBILITAS SOSIAL - Konflik (Konflik antar kelas, antar kelompok Sosial, antar generasi, ) - Penyesuaian dapat memunculkan stabilitas sosial yang baru) (www.google.com) BAB 13 MULTIKULTURAL BANGSA INDONESIA J.S Furnuivall, membedakan masyarakat majemuk ke dalam konsep yang dibedakan menjadi empat katageri: • Masyarakat yang berkompetisi seimbang (etnis Sunda dan Jawa) • Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan (etnis Jawa terhadap etnis Sunda) • Masyarakat majemuk dnegan minoritas dominan (Bangsa Belanda dan Tionghoa vs Pribumi) • Masyarakat majemuk dengan pragmentasi (orang Belanda bekerja dibidang perkebunan, pribumi dibidang pertanian, Tionghoa bekerja diantara distribusi keduanya.) A. CIRI-CIRI MASYARAKAT MAJEMUK Masyarakat tersegmentasi kedalam kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan sub-kebudayaan antara satu dan yang lainnya Memiliki struktur sosial yang terbagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer Kurang mengembangkan kosensus diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat mendasar Seringkali mengalami konflik antara kelompok satu dengan kelompok lain Terjadinya dominasi politik suatu kelompok atau oleh aliansi kelompok terhadap kelompok lain yang lemah. B. PENGERTIAN MULTIKULTURAL Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan. Masyarakat multikultureal berarti keadaan masyarakat yang didalamnya terdapat keanekaragaman budaya, bahsa, agama,adata istiadat dan ppla-pola berbagai tatanan perilaku anggota masyarakat. C. DAMPAK KEMAJEMUKAN SOSIOKULTURAL 1. Konflik sosial Proses/keadaan dimana dua pihak atau lebih berusaha menggagalkan tujuan pihak lain karena ada perbedaanpendapat, nilai-nilai atau tuntutan masing-masing pihak. Gejala-gejala adanya konflik sosisal: a. Tidak adanya persamaa pandangan b. Norma-norma sosial tidak lagi berfungsi c. Adanya pertentangan norma-norma dalam masyarakat d. Lemahnya konsekuensi saksi yang diberikan kepada pihak yang melakukan pelanggaran e. Tindakan anggota masyarakt tidak lagi sesuai dengan norma-norma masyarakat 2. Integrasi sosial Proses penyatuan antar dua unsur atau lebih yang mengakibatkan terciptanya keinginan yang berjalan secara baik dan benar. Mencakup tiga unsur: 1) Perasaan saling mengisi kebutuhan 2) Adanya kosensus norma-norma sosial yang dijadikan pedoman 3) Bertahannya norma-norma yang dijadikan pedoman D. HUBUNGAN DOMINAN-MINORITAS Orang yang memiliki ciri-ciri fisik tubuh atau asal-usul keturunannya atau kebudayannya dipisahkan dari orang-orang lain dan diperlakukan secara tidak sederajat atau tidak adil dalam masyarakat dimana mereka hidup. Contoh: masyarakat Bugis Kelompok dominan yaitu mereka yang menikmati status sosial yang tinggi dan sejumlah keistimewaan yang banyak,adanya kelompok dominan inilha yang kemudia menimbilkan diskriminasi terhadap kelompok minoritas. E. KONSEKUENSI MASYARAKAT MAJEMUK kondisi masyarakat majemuk akan membawa dampak negative dan positif, diantaranya konflik (negative) integrasi (positif) F. LANGKAH KONSENSUS SOSIAL BUDAYA 1. Menegakkan konsesnsus antar individu atau kelompok sosial. contoh: sumpah pemuda 1928. 2. Mengembangkan peran struktur masyarakat secara silang menyilang. G. INTEGRASI SOSIAL DAN MULTUKULTURAL 1. Terjadi segmentasi dalam bentuk kelompok-kelompok sosial 2. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer 3. Kurang mengembangkan consensus diantara anggota masyarakat 4. Sering terjadi konflik antar kelompok 5. Integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan slaing ketergantungan 6. Adanya dominasi politik oleh kelompok atas kelompok lain H. MULTIKULTULARISME DAN KESEDERAJATAN Ideologi yang menekankan pengakuan dan penghargaan pada kesederajatan perbedaan kebudayaan, kesederajatan adalah konsep dimana tidak adanya diskriminasi individu atau kelompok, golongan mayoritas dan minoritas. I. TERBENTUKNYA INTEGRASI NASIONAL Proklamasi 17 Agustus 45 merupakan titik puncak integrasi Nasional setelah sebelumnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan titik reintegrasinya. J. REINTEGRASI SOSIAL MENUJU TATANAN INDONESIA YANG MULTIKULTURAL Prose pembentukan norma-norma dan nilai-nilai baru sebagai cara untuk menyerasikan sengan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mengalami perubahan akibat dinamika sosial dan budaya itu sendiri. K. MENUJU MASYARAKAT INDONESIA YANG MULTIKULTURAL Upaya membangun Indonesia yang multikultural, hanya mungkin dapat terwujud bila: 1. Konsep multikulturalisme menyebar luas dan dipahami pentingnya bagi bangsa Indonesia 2. Kesamaan pemahaman diantara para ahli mengenai makna multikulturalisme dan membangun konsep-konsep yang mendukungnya. 3. Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan cita-cita ini. BAB 14 PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN Perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat (Kingsley Davis) Ini bisa dilihat dalam contoh mudahnya, yaitu: hancurnya peradaban Yunan dan Kerajan Majapahit A. TEORI TEORI PERUBAHAN SOSIAL Perubahan Sosial Secara Lambat (evolusi) 1. Ulinier Theories of Evolution : Manusia dan masyarakat senantiasa mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk kehidupan yang sederhana menuju bentuk kehidupan yang sempurna 2. Multillied Theories of Evolution : Menekankan kepada penelitian-penelitian terhadap tahap perkembangan hal tertentu dalam evolusi masyarakat 3. Teori Konflik : Memandang masyarakat dalam dualism kelas yang tersusun atas kelas borjuis dan proletar. 4. Teori Perubahan Sosial : Sebagaimana stabilitas struktur sosial perubahan-perubahan dalam struktur kelas sosial 5. Teori Fungsional : Memandang penyebab dari perubahan adalah adanay ketidakpuasan masyarakat karena kondisi sosial yang berlaku pada masa ini yang mempengaruhi meraka 6. Teori Siklus : Kebangkitan dan kemunduran peradaban suatu bangsa memiliki hubungan korelasional antara satu dan lainnya Perubahan Sosial Secara Cepat (revolusi) Unsur-unsur pokok dari revolusi yaitu adanya perubahan secara cepat pada sendi sendi atau dasar dasar pokok dari kehidupan masyarakat. B. FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA a. Faktor Internal 1. Bertambah dan berkurangnya penduduk 2. Munculnya penemuan-penemuan baru 3. Pertentangan atau konflik dalam masyarakat 4. Terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri b. Faktor Eksternal 1. Sebab-sebab yangberasal dari lingknag alam fisik yang ada disekitar manusia 2. Peperangan 3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain C. KEHIDUPAN SOSIAL SENANTIASA MENGALAMI PERUBAHAN Faktor yang mendorong timbulnya perubahan sosial, diantaranya: 1. Dalam sejarah hidup, manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah baru 2. Ketergantungan pada hubungan antarwarga pewaris kebudayaan 3. Perubahan lingkungan. D. HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN-PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN Banyak masyarakat yang mempersoalkan perbedaan antar perubahan kebudayaan. Perbedaan tersebut tergantung dari adanya perbedaan pengertian tentang masyarakat dan kebudayaan. Apabila perbedaan tersebut bisa dinyatakan dengan tegas, maka dengan sendirinya perubahan sosial dan budaya dapat dijelaskan. E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JALANNYA PROSES PERUBAHAN a. Kontak dengan kebudayaan lain b. Sistem pendidikan formal yang baru c. Sikap menghargai hasil karya seorang dan keinginan untuk maju d. Sistem terbuka dalam lapisan masyarakat e. Penduduk yang heterogen f. Ketidakpuasaan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu g. Orientasi kehidupan h. Nilai bahwasannya manusia harus berikhtiar untuk mengubah hidupnya F. FAKTOR-FAKTOR YANG MENJADI PENGHAMBAT JALANNYA PROSES PERUBAHAN 1. Kurangnya hubungan anatara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya 2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat 3. Sikap masyarakat yang tradisional 4. Sikap tertutup G. PROSES-PROSES PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN a. Penyeseuaian masyarakat terhadap perubahan b. Saluran-saluran perubahan sosisal dan kebudayaan\ c. Disintrigasi dan reorganisasi BAB 15 PEMBANGUNAN INDONESIA PADA ERA MODERNISASI DAN GLOBALISASI P ada dasarnya, pembangunan adalah persoalan yang dihadapi oleh umat manusia sekarang ini. Suatu realitas yang senyatanya ada, tidak ada kehidupan suatu Bangsa yang sama sekali tidak menghadapi persoalan apa pun, misalnya persoalan yang oleh negara-negara berkembang; seperti: masalah kelaparan, penyakit, kebodohan dsb, dengan demikian, pembangunan adalah persoalan bagi para pembuat kebijakan umum (public policy) yang dalam kapasitas ini adalah pemerintah ( Peter L. Berger:1983) Secara garis besar, sub-sub dari tema ini adalah: 1. Konsep dan Teori Pembangunan Makna pembangunan adalah seperangkat usaha manusia untuk mengarahkan perubahan sosial dan kebudayaan sesuai tujuan dari kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu mencapai pertumbuhan peradaban peradaban kehidupan sosial dan kebudayaan atas dasar target-target yang telah ditetapkan. Mudahnya, persoalan yang dihadapi oleh negara sedang berkembang adalah kemiskinan dan keterbelakangan yang erat sekali dengan faktor historis, yakni eksploitasi, pemerasan dan penjajahan. Kenyataan sejarah inilah yang meyakinkan kita bahwa faktor-faktor struktural yang sengaja diciptakan oleh struktur politik dalam masa kolonialisme barat-lah yang menyebabkan kemiskinan. 2. Konsep Pembangunan Pembangunan bukan hanya sekedar tujuan dari tindakan rasional manusia dalam melakukan perubahan dalam bidang yang menjadi garapan dari perubahan, namun pembangunan adalah secercah harapan manusia untuk mengubah nasibnya, baik secara materi maupun rohaniah untuk menjadi lebih baik. Serta merupakan tumpuan aspirasi atau keinginan untuk memperbaiki nasib dari suatu bangsa dengan berpedoman kepada indikator tertentu yang telah ditetapkan yaitu mencapai pola-pola hidup yang disebut dengan modernisasi. Modernisasi lebih menitikberatkan pada aspek rasionalisasi. Jika ukuran dari modernisasi dititiberatkan pada aspek ekonomi, maka kapitalisasi selalu dijadikan sebagai tolak ukur bagi modernisasi dibidang ekonomi. Artinya, kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang menuntut prosedur dan sikap mental yang mampu menghitung, meramal dan mengawasi secara seksama pertumbuhan ekonomi yang berwujud Industrialisasi(Max Webber). 3. Tatanan Baru dan Ketergantungannya Keterbelakangan negara Amerika Latin bukan disebabkan oleh karakteristik kultural, tetapi karena adanya penetrasi kapital dari negara-negara kapitalis sehingga menyebabkan negara Amerika Latin tersebut tergantung(Frank). Yang dimaksud dengan ketergantungan adalah situasi dimana ekonomi negara tertentu ditentukan oleh perkembangan dan ekspansi negara lain yang kepadanya negara pertama tunduk. Contohnya: Semua negara kapitalis industri maju sekarang ini adalah bekas negara penjajah baik secara ekonomis maupun secara politik. Kolonialisme ekonomi dan politik di negara Asia, Afrika dan Amerika Latin itu meninggalkan warisan historis yaitu ekonomi yang berproduksi primer dan yang berorientasi ekspor, dan ketimpangan kemampuan berproduksi dalam masyarakat. Warisan historis yang paling penting yang ditinggalkan oleh penjajah adalah struktur ekonomi yang berfungsi pendukung ekonomi negara penjajahnya dan terhadap sistem kapitalis internasional pada umumnya. 4. Globalisasi Sering kali istilah ini diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal. Yang menjadi dasar dari gejala globalisasi yaitu tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mampu mencukupi kebutuhannya sendiri (Piotr Sztompka:2007). Globalisasi adalah sebuah rentetan sistem menyeluruh untuk berbagai proses yang berada pada jantung ekonomi global(Peter Drucker). Cara mereka memahami dunia, baik dunia lokal sendiri mapun keseluruhan mengalami perubahan yang sangat besar. Beberapa diantaranya; -Bidang politik : Adanya kesatuan Suprasional misalnya saja, NATO, G7, PBB dengan badan-badan khususnya dan berbagai hegemoni politik. -Bidang ekonomi : Terlihatnya peningkatan peran koordinasi dan integrasi Suprasional, semisal OPEC, EFTA, pembagian kerjasama ekonomi regional dan dunia dsb. -Bidang kebudayaan : Terlihat kemajuan menuju keseragaman, baik itu media massa (terutama TV) yang; - menyuguhan pengalaman kultural (Olimpiade, konser, Pesta dsb) - menjangkau barang konsumsi seluruh dunia (Coca Cola, Pizza, Mc. Donald dsb) - menggerakan penduduk (Migrasi, pariwisata dsb) - memunculkan bahasa Global seperti bahasa Inggris, Mandarin dsb - dan lain-lain a. Teori Globalisasi Ada dua pandangan yang menyatakan mengenai teori globalisasi: 1. Yang meyakini akan berdampak positif: Membawa seluruh dunia untuk secara bersama-sama melahirkan satu lembaga bagi seluruh dunia. Mereka yakin bahwa pada saatnya akan ada gejala dimana batasan kultural baru yang mendunia. Pandangan inilah yang pada akhirnya menelurkan keyakinan akan terciptanya suatu tatanan baru dalam sebuah kebudayaan yang bersifat homogen, yaitu kebudayaan dunia. 2. Yang meyakini akan berdampak negatif: Pandangan ini mendasarkan bahwa kenyataan perubahan struktur dunia tidak membawa hegemonitas pada budaya dunia, tetapi justru melahirkan dominasi negara adikuasa yang berperan seolah-olah polisi dunia yang berhak menangkap dan menghakimi siapa saja yang tidak sejalan engan ideologi liberalisme mereka. Dengan demikian, globalisme tidak lebih dari upaya negara industri barat untuk menciptakan kapitalisasi dunia yang diluncurkan sebagai even global untuk menjaga stabilitas dominasinya atas negara dunia. b. Proses terjadinya Hubungan perdagangan antarbangsa masih menjadi penyebab utama karena ialah yang banyak mengawali proses ini. Setiap negara di dunia tidak menampik kekurangan dalam negaranya dan mencari kebutuhan diluar dengan menjalin kerjasama dalam perdagangan. Secara historis, kita bisa lihat bagaimana bangsa-bangsa muslim mendominasi perdagangan di kawasan Asia dan Afrika hingga membentuk jaringan perdagangan antarbangsa. c. Globalisasi Ekonomi Pengertian globalisasi ekonomi adalah terletak pada pernyataan bahwa perekonomian nasional suatu bangsa menjadi bagian dari perekonomian dunia (global) dengan ditandai oleh adanya kekuatan pasar dunia. Hal ini menimbulkan 2 analisis: • Dalam perdagangan kaum Marxisme berpendapat bahwa globalisasi yang kuat telah terjadi • Kaum tradisionil berpandangan bahwa perekonomian internasional belum mendominasi kebijakan ekonomi nasional d. Globalisasi budaya Dengan maraknya berbagai media asing, maraknya acara-acara televisi yang bersifat glamor dan sebagainya telah mengantarkan pola-pola kehidupan bangsa ini terjebak pada kehidupan yang glamor yang sangat konsumeritis. Ini yang menyebabkan hilangnya identitas suatu bangsa. Berubahnya kultur ini semacam ini tanpa disadari telah menjadi sasaran produk kapitalis untuk menawarkan berbagai produk sehingga mereka dapat mengeruk keuntungan yang besar, dan kita hanya menjadi suatu bangsa yang berpredikat konsumen saja tanpa memiliki kemampuan untuk memproduksi. Dengan demikian, globalisasi merupakan istilah yang berhubungan dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dengan berbagai kaitannya dan banyak segi-segi positif atau negatif darinya. 5. Modernitas dan Post-Modern ada dua cara untuk menetapkan modernitas; historis atau analisis. Para Sosiolig bersepakat bahwa masa peralihan antara masyarakat tradisional dan modern terletak pada gejala revolusi industri di Inggris. Salah satu pendapat pendapat mengenai ini “Modernitas mengacu pada mode kehidupan masyarakat atau organisasi yang lahir di Eropa sejak abad ke-17 dan sejak itu pengaruhnya semakin menjalar ke seluruh dunia(Giddens). Dampak yang paling nyata adalah peralihan dri struktur masyarakat feodal menjadi struktur masyarakat kapitalis. Dengan demikian, modern ini sendiri lebih dekat dengan kapitalisme. August Comte mengajukan beberapa ciri tatanan sosial baru hasil transformasi sosial, diantaranya: 1. Konsentrasi tenaga kerja di pusat urban(perkotaan) 2. Pengorganisasian pekerjaan yang ditentukan berdasarkan efektivitas dan keuntungannya 3. Penerapan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam proses produksi 4. Munculnya antagonisme terpendam atau nyata antara majikan dan buruh (dialetika kapitalisme sebagai dasar analisis Marx) 5. Ketimpangan dan ketidakadilan yang berkembang 6. Sistem ekonomi berlandaskan usaha bebas dan kompetensi terbuka. a. Aspek – aspek Modernitas Ciri-ciri modernitas (Krisham Kumar) : - Individualisme Individu terbebas dari tekanan ikatan kelompok, suku ataub bangsa karna ialah yang memegang peranan sentral. - Diferensiasi Pembagian kerja dalam sejumlah pekerjaan yang besar melalui spesialisasi pekerjaan, penyempitan definisi dsb yang itu semua memerlukan banyak keterampilan. - Rasionalisasi (berperhitungan) Berfungsinya institusi dan organisasi tidak tergantung pada perseorangan. - Ekonomisme Karena seluruh aktivitas aspek kehidupan sosial didominasi oleh aktivitas ekonomi - Perkembangan Dengan melalui globalisasi karena dengannya lah ia menjadi sarana pusat b. Kepribadian Modern Studi komparatif Harvad tahun 1970 dengan proyek “Aspek Sosial dan Kulturasi Pembangun di lima negara berkembang (Argentina, Chili, India, Israel dan Pakistan), menghasilkan model analisis kepribadian sebagai berikut: 1. Kesiapan menerima pengalaman baru dan keterbukaan terhadap inovasi dan perubahan. 2. Kesiapan membentuk untuk mempertahankan pendapat tentang berbagai masalah yang menyangkut kepentingan umum. 3. Orientasi khusus terhadap waktu 4. Kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri dan bersama orang lain dalam menghadapi berbagai masalah 5. Berencana dan mengantisipasi menuju masa depan 6. Rasa keadilan dalam berbagi 7. Minat dan nilai tinggi pada pendidikan 8. Menghormati martabat orang lain 9. Kualitas individual saling berkaitan c. Kekecewaan Atas Modernitas Kritik terhadap modernitas telah gencar sejak awal abad ke-19 sampai abad 20. Kritik yang paling gencar dilontarkan oleh Karl Marx dengan mengemukakan konsep alienasi. Ia percaya bahwa sifat manusia yaitu bebas dan senang bergaul. Tetapi manusia membuang ciri kemanusiaannya ini ketika kondisi sejarah tidak memberikan peluang untuk melaksanakannya. Alienasi berarti kehilangan dorongan hati untuk bergaul (motif, egoisme, atomisasi), kehilangan kreativitas (motif monoton, kerutinan) dan kehilangan kontrol terhadap tindakan (motif pasifisme), kehilangan otonomi (motif pemujaan komoditas yang merasuki semua orang) dan tentu saja “menghancurkan potensi kemanusiaan”. d. Manusia Menjadi Tak berperikemanusiaan Dengan adanya revolusi politik yang membawa perubahan dari masyarakat feodal ke masyarakat kapitalis, maka kini setiap benda dan kekayaan dan untuk berpartisipasi dalam proses politik. Alam masih tetap dieksploitasi demi kelangsungan hidup manusia. Alam bendawi dijadikan objek. Semakin alam dieksploitasi, semakin manusia dieksploitasi alam. 6. Alienasi Agama (Sakral) Menurut Marx, agama merupakan gambaran ideal yang diciptakan oleh manusia dalam wujud Tuhan. Gambaran ideal yang disebut Tuhan itu kemudian disembah manusia, sehingga akhirnya ciptaan manusia itu mnjadi teralienasi dari manusia karena agama itu “menindas” manusia. Alienasi diri manusia secara sakral terjadi, karena manusia tunduk pada Tuhan yang merupakan ciptaannya dan Tuhan ciptaannya ituu mendominasi manusia. Lanjutnya, manusialah yang menciptakan agama dan agama tidak menciptakan manusia. 7. Alienasi Sekuler Ekonomi Marx membahas mengenai ini dengan membentuk 4 bentuk teralienasi, yaitu: alienasi dari produk ciptaannya, dari pekerjaannya, dari species-life dan manusia lain. 8. Alienasi Sekuler Politik Fenomena ini secara sekuler dan politik terjadi karena warga negara menyerahkan kedaulatannya kepada negara, dan negara yang tadinya diciptakan sebagai penyelenggara kepentingan warga kini beralih sebagai yang mendominasi warga negara lewat birokrasi dan aparat negara lainnya. 9. Gejala Modernisasi Dan Globalisasi Dalam Masyarakat Indonesia Permasalahan kemiskinan, kebodohan, tingkat kesehatan yang rendah dan mentalitas konservatif masih menjadi bekas peninggalan penjajahan Kolonial Belanda. Di masa penjajahan Belanda, masyarakat Indonesia terutama yang berada di daerah pedesaan lebih banyak menderita kemiskinan akibat terampasnya hak-hak material yang seharusnya menjadi milik masyarakat Indonesia. Faktor utamanya ketika kebijakan tanam paksa oleh Van Den Bosh bahkan sampai-sampai ke VOC. Ada beberapa persoalan dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia, diantaranya: o Orientasi pembangunan yang dijalankan oleg Orde Baru lebih mengacu pada industralisasi yang berwawasan ekspor. o Pengelolaan sumber daya alam yang tidak bijaksana o Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia secara kuantitatif memang besar, tetapi apalah artinya jika kualitasnnya sangat rendah. Dapat dirubah menjadi 2 : 1. SDM yang terlatih 2. Yang tidak memiliki keahlian dan keterampilam Ada beberapa hal mendesak yang harus segara ditangani: 1) Bidang Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi 2) Bidang Ekonomi 3) Bidang Politik dan Ideologi 4) Bidang Keagamaan 5) Bidang Kebudayaan 6) Bidang Pertahanan dan Keamanan Dampak Modernisasi dan Globalisasi di Indonesia, diantaranya: 1. Urbanisasi 2. Kriminalitas 3. Kenakalan Remaja BAB 16 KEKUASAN DAN WEWENANG Kekuasaan adalah kemampuan menggunakan sumber-sumber pengaruh yang dimilki sesorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi pihak lain, sehingga pihak lain (yang dipengaruhi) berperilkau sesuai dengan kehendak atau keinginan pihak yang mempengaruhi ini. Kewenangan merupakan penekanan pada legalitas dari pengaruh yang ada pada diri sesorang atau sekelompok orang tersebut. Kewenangan juga lebih diarikan sebagai kekuasaan yang melekat pada diri sesorang atau kelompok orang yang telah mendapat dukungan dari msyarakat yang dikuasainya. A. DIMENSI-DIMENSI KEKUASAAN a. Kekuasaan potensial dan kekuasaan aktual Seseorang dikatakan memiliki kekuasaan potensial jika ia memilki sumber-sumber kekuasaan misalnya tanah yang luas, kekayaannya yang melimpah ruah, senjata, pengetahuan, dan informasi, popularitas, status sosial yang tinggi, massa yang terorganisasi, dan jabatan. Apa yang ia miliki dapat dijadikan sumber kekuasaan. b. Kekuasaan atas dasar paksaan dan kekuasaan atas dasar konsensus Dapat dilihat dari tujuan mencapai kekuasaan ini, jika kekuasaan ditujukan untuk mencapai kepentingan individu atau sekelompok kecil masyarakat, maka kekuasaan yang demikian dikataklan kekuasaan atas dasar paksaan. Kekuasaan atas dasar konsensus adalah kecenderungan melihat aktor politik sebagai orang yang berusaha menggunakan kekuasaan untuk mencapai tujuan masyarakat secara keseluruhan. c. Kekuasaan positif dan kekuasaan negatif Kekuasaan dipandang positif adalah jika penggunaan sumber sumber kekuasaan ini untuk mencapai tujuan yang dipandang penting dan harus, missal kekuasaan yang ditujukan untuk mencaoai kesejahteraan. Adapun kekuasaan negative jika penggunaan sumber0sumber kekuasaan ini untuk mencegah pihak lain mencapai tijuan yang dipandang tidak perlu, tetapi jiuga merugikan pihaknya. d. Kekuasaan jabatan dan kekuasaan pribadi Kekuasaan jabatan biasanya terdapat pada struktur masyarakat yang sudah maju atau mapan. Adapun kekuasaan pribadi biasanya terdapat di alam masyarakat yang struktur sosialnya masih sederhana. e. Kekuasaan implisit dan kekuasaan eksplisit Kekuasaan implisit adalah kekuasaan yang pengaruhnya tidak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan. Kekuasaan eksplisit ialah kekuasaan yang pengaruhnya jelas terlihat dan terkesan. f. Kekuasaan langsung dan kekuasaan tak langsung Yang dimaksud kekuasaan langsung adalah pengggunaan sumber-sumber kekuasaan untuk mempengaruhi pembuat keputrusan politik secara langsung tanpa perantara. Kekuasaan tidak langsung adalah jika dalam menggunakan sumber-sumber untuk mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan public melalui perantara (mediator). B. SUMBER-SUMBER KEKUASAAN Yang menjadikan faktor sesorang atau sekelompok kecil berkuasa atas orang lain: 1. Sarana paksaan fisik 2. Kekayaan 3. Normatif 4. Popularitas 5. Status sosial 6. Massa yang terorganisir 7. Jabatan 8. Pers C. SALURAN KEKUASAAN Unsur pokok: 1. Rasa takut 2. Rasa cinta 3. Kepercayaan 4. Pemuja Saluran-saluran yang digunakan dalam pelaksanaan kekuasaan 1. Saluran militer 2. Saluran ekonomi 3. Saluran politik 4. Saluran tradisional 5. Saluran ideologi 6. Saluran lainnya D. CARA UNTUK MENGHUKUM KEKUASAAN Cara-cara umum: 1. Menghilangkan segenap peraturan lama, terutama dalam bidang politik yang merugikan kedudukan penguasa 2. Mengadakan sistem-sistem kepercayaan yang akan memperkokoh kedudukan penguasa atau golongan 3. Pelaksanaa sistem administrasi dari birokrasi yang baik 4. Mengadakan konsolidasi secara horizontal dna vertikal Cara-cara khusus: 1. Menguasai bidang-bidang kehidupan tertentu 2. Menguasai bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat dengan paksaan dan kekerasan E. KEWENANGAN Kewenangan merupakan hak moral yang sejalan dengan nilai dan norma masyarakat untuk membuat dan melaksanakan keputusn public yang mempunyai pengaruh besar terhadap pembuat dan pelaksana keputusan publik. F. SUMBER-SUMBER KEWENANGAN 1. Berasal dari sistem tradisi yang berlaku 2. Dianggap berasal dari Tuhan 3. Berasal dari kualitas pribadi pemimpin 4. Berasal dari peratiran perundang-undangan 5. Berasal dari sumber-sumber yang bersifat instrumental, seperti keahlian dan kekayaan G. BENTUK-BENTUK KEWENANGAN a. Kewenangan karismatik, tradisional dan rasional b. Wewenang resmi dan tidak resmi c. Wewenang pribadi dan wewenang territorial d. Wewenan terbatas dan wewenang menyeluruh H. LEGITIMASI Legitimasi merupakan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin. Konsep ini erat kaitannya dengan sikap masyarakat yang menjadi objek kewenangan ini terhadap kewenangan, artiny apakah masyarakat menerima dan mengakui hak moral pemimpin untuk membuat melaksanakan keputusan public yang mengikatnya atau malah sebaliknya menolak keputusan tersebut. I. BIROKRASI Penguasaan kekuasaan tidak dapat dilakukan tanpa adanya alat penghubung yang teratur dapat dipercaya atau birokrasi. Dengan adanya alat-alat penghubung yang modern dewasa ini, maka penggunaan kekuasaan dari pusat pemerintahan dapat dilakukan dengan lebih cepat, luas dan meratadibanding dengan zaman dahulu. Ciri-ciri birokrasi: 1. Adanya ketentuan tegas dan resmi tentang kewenangan yang didasarkan pada peraturan-peraturan umum. 2. Prinsip pertingkatan. 3. Ketatalaksanaan birokrasi modern didasarkan pada dokumen tertulis. 4. Memerlukan latihan dan keahlian khusus dari para petugas 5. Menuntur kemampuan bekerja yang maksimal dari pelaksana 6. Pelaksanaan birokrasi didasarkan pada ketentuan umum ynag bersifat langgeng atau kurang langgeng. J. KEKUASAAN MENURUT BUDAYA JAWA Didalam struktur budaya Jawa lebih mengenal konsep yang lazim dinamakan “kesakten” (kesaktian). Adapun konsep kesakten sendiri tidaklah saama dengan pengertian kekuasaan yang selama ini diterapkan dalam ilmu politik maupun ilmu sosiologi. Yang dimaksud disisn adalah pemikiran politik Jawa prakolonial. Konsep kekuasaan menurut budaya barat: a. Kekuasaan itu bersifat abstrak b. Sumber kekuasaan ialah heterogen c. Jumlah kekuasaan tidak terbatas d. Secara moral, kekuasaan bersifat kabur e. Kekuasaan ialah konkret f. Kekuasaan ialah homogeny g. Jumlah kekuasaan di dunia ini tetap h. Kekuasaan tidak mempunyai implikasi moral K. KEPEMIMPINAN (LEADERSHIP) Adalah kemampuan dari seseorang untuk mempengaruhi oran lain, sehingga ornag lain itu bertingkah laku sebagaimana yang dikehendaki oleh pemimpin ini. Dalam hal ini ada dua macam: 1. Kepemimpinan sebagai kedudukan 2. Kepemimpinan sebagai proses sosial Kepemimpinan yang bersifat resmi yaitu kepemimpinan yang tersimpul diatas jabatas, dan ada pula karena pengakuan dari masyarakat akan kemampuan seseorang utuk menjalankan kepemimpinan. BAB 17 MASALAH KEMISKINAN A. BATASAN TENTANG KEMISKINAN Kemiskinan lazimnya digambarkan sebagai gejala kekurangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Sekelompok anggota masyarakat dikatakan berada dibawah garis kemsikinan jika pendapatan kelompok anggota masyarakat ini tidak memenuhi kebutuhan yang paling pokok seperti pangan, pakaian dan tempat tinggal. Tiga hal pengaruhnya: 1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan. 2. Posisi manusia dalam lingkungan sekitar. 3. Kebutuhan objektif manusia untuk dapat hidup secara manusiawi. Ciri-ciri mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan: 1. Tidak memiliki faktor produksi. 2. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri. 3. Tingkat pendidikan mereka rendah. 4. Kebanyak tinggal didesa sebagai pekerja bebas. 5. Banyak yang hidup dikota berusia muda, tidak mempunyai ketrampilan. Beberapa istilah dalam kajian kemiskinan: a. Poverty line (garis kemiskinan) : tingkat konsumsi rumah tangga minimum yang dapat diterima secara sosial. b. Absolute and relative poverty ( kemiskinan absolut dan relative) : kemiskinan absolut adalah kemiskiann yang jatuh dibawha standar konsumsi minimum dan karenanya tergantung pada perbaikan. Relative adalah kemiskinan yang eksis diatas garis kemiskinan absolut. c. Deserving poor : kaum miskin yang mau peduli dengan harapan harapan nonmiskin. d. Target population (populasi sasaran) : kelompok orang yang dijadikan sebagai objek dan kebijakan serta program pemerintah. B. MENGUKUR KEMISKINAN Baswri dan Sumodiningrat, secara sosioekonomis, terdapat dua bentuk kemiskinan: 1. Kemiskinan absolut : Kemiskinan dimana orang-orang miskin memiliki tingakat pendapatan dibawah garis kemiskinan. 2. Kemiskinan relatif : Kemiskinan yang dilihat berdasarkan perbandingan antara tingkat pendapatan dan tingkat pendapatan-pendapatan lainnya. Terdapat bentuk kemiskinan yang sekaligus menyebabkan faktor kemiskinan - Kemiskinan natural Karena dari awalnya memang sudah miskin - Kemiskinan kultural Kebiasaan yang selalu merasa cukup - Kemiskinan struktural Karena kebijakan ekonomi yang tidak adil C. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI DALAM PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN Beberapa permasalsh yang menjadi beban: 1. Tingginya tingkat inflasi akibat kenaikan BBM. 2. Belum meratanya program pembangunan. 3. Masih terbatasnya akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar. 4. Masih besarnya jumlah penduduk yang rentan untuk jatuh miskin. 5. Kondisi kemiskinan sangat dioengaruhi oleh fluktuasi harga kebutuhan pokok. D. PENANGGULANGAN KEMISKINAN Kemiskinan merupakan masalah multidimensi dan lintas sektor yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain : tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jas, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Pemberdayaan Masyarakat Miskin Upaya masyarakat miskin melibatkan diri dalam proses pembangunan melalui power yang dimiliknya merupakan bagian dari pembangunan manusia. Pembangunan manusia merupakan proses kemandirian, kesediaan bekerjasama, dan toleran terhadap sesamanya dengan menyadari potensi yang dimilikinya. Pemberdayaan masyarakat tidak lain adalah menggali kemampuan masing-masing keluarga miskin dalm mewujudkan harapan-harapannya. Pemberdayaan masyarakat merupakan pemberian hak pada masyarakat untuk dapat meningkatkan daya atau kemampuan sendiri. Peningkatan Akses Masyarakat Miskin Atas Pelayanan Dasar a. Peningkatan akses dan kualitas pendidikan b. Peningkatan pelayanan kesehatan c. Peningktan infrastruktur dasar bagi masyarakat. BAB 18 MASYARAKAT PEDESAAN DAN MASYARAKAT PERKOTAAN A. PENGERTIAN MASYARAKAT PEDESAAN Sekelompok manusia yang hidup bermukim secara menetap dalam wilayah tertentu, yang tidak selalu sama dengan wilayah administrasi setempat, dan mencakup tanah pertanian yang kadang kadang dikuasai secara bersama. Ciri-ciri desa menurut Paul H Landis: 1. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa. 2. Ada penilaian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan. 3. Cara berusaha (eknomi) adalah agraris yang paling umum sangat dipengaruhi alam . B. HAKIKAT DAN SIFAT MASYARAKAT PEDESAAN Ferdinand Tonies membuat batasan tentang masyarakat pedesaan sebagai masyarakat paguyuban, dan paguyubanlah yang menyebabkan orang-orang kota menilai masyarakat ini tenang, harmonis, rukun dan damai. Gejala seperti ini juga terdapat dalam masyarakat pedesaan : 1. Konflik (pertengkaran) 2. Kontrovesrsi (pertentangan) 3. Kompetisi (persiapan) 4. Kegiatan pada masyarakat pedesaan C. ASAL-USUL MASYARAKAT PEDESAAN Sebelum masyarakat pedesaan terbentuk, semula diawali dengan adanya persekutuan hidup bersama manusia dalam suatu kelompok masyarakat primitive yang saling bekerja sama mencari makan melalui kegiatan berburu , meramu dan mengumpulkan berbagai bahan makanan. Fase hidup menetap dan mengolah lahan serta menernakan binatang di dalam suatu perkampungan tersebut, maka makin dikenal ilmu pengetahuan tentang metode pengolahan tanah, yang sering disebut pertanian. Persekutuan tersebut membentuk kelompok masyarakat agraris hingga membentuk desa. Kehidupan Masyarakat Pedesaan Kesan popular secara sepintas tentang kehidupan masyarakat pedesaan dipahami sebagai masyarakat yang bodoh, lambat dalam befikir dan bertindak, mudah tertipu dan sebgainya kesan ini dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan tentang masyarakat pedesaan. Sebagaian masyarakat pedesaan masih banyak yang menganut pola perilaku yang didasarkan pada adat istiadat lama, yaitu suatu aturan yang sudah mantap dan mencakup segala konsepsi sistem budaya yang mengatur tindakan atau perbuatan manusi dalam kehidupan sosialnya. Desa memiliki tiga unsur: 1) Daerah dan letak; 2) Penduduk; 3) Tata kehidupan. Pemahaman detail tentang kehidupan masyarakat pedesaan dapat dari beberapa hal: 1. Lingkungan umum dan orientasi terhadap alam 2. Pekerjaan atau mata pencaharian 3. Ukuran komunitas 4. Kepadatan penduduk 5. Homogenitas dan heterogenitas 6. Diferensiasi sosial 7. Pelapisan sosial. J.M.Van der Kroef dan C.B Tripati ; a. Golongan elite desa b. Kulikenceng c. Kulikendo d. Kulighundul e. Magersari f. Mondok kempok, bujang tlosor 8. Mobilitas sosial 9. Interaksi sosial 10. Pengawasan sosial 11. Pola kepemimpinan 12. Standar kehidupan 13. Kesetiakawanan sosial 14. Nilai dan sistem sosial D. PENGERTIAN MASYARAKAT PERKOTAAN Kota sering kali dipahami sebagai bentuk kehidupan masyarakat yang sangat individual, penuh kemewahan, gedung-gedung yang menjulang tinggi, kendaraan yang lalu lalang hingga mengundang kemacetan, perkantoran yang mewah, dan pabrik-pabrik yang besar. Dan seringkali dianggap sebagai tujuan masyarakat pedesaan mencari pekerjaan. Permasalahan kota-kota didunia: 1. Masalah pencemaran dan sampah 2. Masalah pengangkutan dalam kota 3. Masalah pertumbuhan penduduk yang tinggi dan cepat 4. Masalah pemukiman yang tidak memenuhi persyaratan untuk hidup 5. Masalah kemasyarakatan yang timbul di kalangan penduduknya (pengangguran, kemiskinan, kejahatan) Jorge Hordoy memberikan 10 kriteria untuk merumuskan sebuah kota: 1. Memiliki ukuran penduduk yang besar dilihat dari zaman dan lokasinya 2. Bersifat permanen 3. Mencapai kepadetan tertentu 4. Jelas struktur dan tata ruangnya 5. Merupakan tempat manusia tinggal dan bekerja 6. Memiliki fungsi minimum seperti adanya pasar, admininstrasi, politik, militer, keagamaan, cendikia. 7. Mempunyai penduduk heterogen yang diklasifikasikan secara hirearkis 8. Merupakan pusat ekonomi yang memiliki hubungan dengan daerah pertanian ditepi kota dan yang memproses bahan mentah dari daerah pertanian itu 9. Merupakan pusat pelayanan bagi daerah-daerah yang berada disekitarnya 10. Merupakan pusat penyebaran falsafah hidup yang dimiliki Ciri-ciri masyarakat perkotaan: 1. Kehidupan keagamaan berkurang 2. Orang kota pada umunya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain 3. Pembagian kerja lebih tegas dan mempunyai bata syang nyata 4. Kemungkinan untuk mendapat pekerjaan lebih banyak 5. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan factor kepentingan daripada factor pribadi Unsur-unsur masyarakat perkotaan .. 1) wisma; 2) karya; 3) Marga; 4) Suka; 5) Penyempurnaan E. KEHIDUPAN MASYARAKAT PERKOTAAN Dipahami sepintas sebagai kelompok masyarakat yang lebih beradab, pintar, terdidik, modern, lebih mudah menerima perubahan, dan lebih mudah menerima dan menyerap informasi. Kesan ini semata-mata dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan tentang masyarakat perkotaan, padahal masih banyak yang bertempat tinggal diwilayah pemukiman kumuh, bekerja disektor informal. Lingkungan umum danorientasi terhadap alam 1. Pekerjaan atau mata pencaharian 2. Ukuran komunitas 3. Kepadatan penduduk 4. Homogenitas dan heterogenitas 5. Diferensisasi sosial 6. Pelapisan sosial 7. Mobilitas sosial 8. Interaksi sosial 9. Pengawasan sosial 10. Pola kepemimpinan 11. Standar kehidupan 12. Kesetiakawanan 13. Nilai dan sistem nilai ada dua kelompok besar kebijaksanaan pengarahan urbanisasi di Indonesia yang saat ini sedang dikembangkan a. Mengembangkan daerah-daerah pedesaan agar memiliki ciri-ciri sebagai daerah perkotaan b. Mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, atau dikenal dengan istilah daerah penyangga pusat pertumbuhan. F. HUBUNGAN MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN Antara desa dan kota pada umumnya terlihat ada pernedan sosial dan kebudayaan yang besar. Bagi orang desa, kota itu dianggap berbahaya, hartus waspada dengan muslihatnya. Dan segi akhlak juga, kota alah kekuasaan, kekayaan dan pengetahuan. Sebaliknya desa menurut orang kota, masyarakatnya bodoh, kurang pengetahuan, tetapai desa jug memiliki kelebihan, yaitu kebudayaan ynag asli dan menghayati kehidupan yang baik dan kesederhanaan. Hubungan masyarakat pedesaan dan perkotaan merupakan hubungan “peripheral”. Kedudukan desa merupakan bagian dari peradaban yang menyuplai makanan untuk mendukung kelas penguasa politik dan keagamaan, serta kaum pelajar (elite) dari suatu tradisi besar. BAB 19 GENDER DAN PERMASALAHANNYA A. PENGERTIAN TENTANG GENDER Gender merupakan istilah yang digunakan untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan yang didasarkan pada aspek sosiokultural. Menurut Lever, perbedaan ciri-ciri kepribadian perempuan dan laki terlihat sejak masa kanak-kanak: 1. Anak laki-laki lebih banyak memperoleh kesempatan bermain diluar rumah dan bermain lebih lama ketimbang anak perempuan 2. Permainan anak laki-laki lebih bersifat kompetitif dan konstruktif karena anakn laki-laki lebih tekun dan lebih efektif dari anak perempuan 3. Permainan anak perempuan lebih banyak bersifat kooperatif dan lebih banyak berada di dalam ruangan Perbedaan-perbedaan biologis dan psikologis ini menimbulkan pendapat atau suatu kesimpulan di masyarakat yang pada umumnya merugikan pihak perempuan. Bentuk kerugian kaum perempuan tersebut diantaranya: 1. Laki-laki lebih unggul dan lebih pandai dibandingkan anak perempuan 2. Laki-laki lebih rasional dari anak perempuan 3. Perempuan lebih diharapkan menjadi istri dan ibu B. MASALAH GENDER DI INDONESIA Persoalan gender di Indonesia dapat dilihat dari aspek ruang dan waktu atas dasar kultur yang berlaku diberbagai lokasi dan waktu tertentu. Pada masa lalu, kultur budaya menempatkan kaum perempuan sebagai kaum yang memiliki hak hak sosial yang lebih sempit dibandingkan dengan kaum laki-laki. Kaum perempuan sebagai sosok yang ditempatkan sebagai kelompok yang dipinggit didalma rumah, tidak boleh bekerja dilurav rumah, dan tidak boleh mengenyam pendidikan. Sebenarnya kita telah memiliki basis legal yang menjain hak dankesempatan laki-laki dan perempuan. Akan tetapi masih banyak kendala budaya dan struktural yang membuat perempuan msih menghadapi kesulitan,khusunya dalam hal partisipasi dalam mengambil keputusan dan kekuasaan. Hal ini dikarenak lingkungan dan struktur budaya tidak mendukung terciptanya pasrtisipasi penuh dari perempuan dlam dunia politik maupun dalam mengambil keputusan. KONSEP GENDER DALAM REALITAS KEHIDUPAN 1. Lingkungan keluarga Keluarga merupakan tempat terpenting karena merupakan tempat kedudukan pertama. Menurut teori gender, kedudukan yang terpenting bagi perempuan dalam keluarga adalah sebagai istri dan ibu, perempuan diharapkan dapat memasak, menjahit, memelihara rumah, serta melahirkan. Sehubungan dengan ini idealnya tempat istri di rumah. 2. Lingkungan pendidikan Dibidang pendidikan tampak bahwa konsep gender juga dominan. Sejak masa kanak-kanak ada dua orang tua yang memperlakukan pendidikan yang berbeda berdasarkan konsep gender. Sebagai contoh anak perempuan diberi permainan boneka sedang anak laki-laki memperoleh mobil-mobilan dan senjata. Menduduki jabatan strategis masih dapat dikatakan sedikit atau tak sebanding dengan kaum laki-lakinya. C. MASALAH GENDER DAN POLITIK SEKSUAL Ketika masuk dunia kerja, perempuan sering mendapat pekerjaan yang paling susah dipabrik atau kantor, dengan upah yang paling rendah, sekaligus terus dibebani dengan kebanyakan tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci dan mengasu anak. Perempuan masih menderita pelecehan seksual dan pemerkosaan. Banyak perempuan mengalami penindasan, dari yang berkedudukan tinggi sampai yang berkedudukan paling rendah. D. MASALAH GENDER DAN AGAMA Isu-isu tentang haramnya pemimpin perempuan dari kalangan perempuan menjadi persoalan yang cukup hagat ketika tampilannya Megawati sebagai slaah satu calon presiden di Negeri ini. Lepas latar belakang, isu ini muncul apakah dikarenakan faktor agama atau politik. Akan tetapi, yang jelas dari pihak-pihak partai politik yang bernuansa Islam menolak atas dasar nilai-nilai dan norma islam dimana kaum perempuan dikatakan haram untuk memimpin suatu negri. Titik persoalan tentang haramnya kepemimpinan agama memicu anggapan bahwa isu ini lebih banyak bermuatan kepentingan politik dibandingkan agama secara murni. Kuatnya citra gender sebagai kodrat, yang melekat pada benak masyarakat, bukanlah merupakan akibat dari suatu proses sesaat melainkan telah melalui suatu proses dialektika, konstruksi sosial, yang dibentuk, diperkuat, disosialisasikan secara evolusional dalam jangka waktu yang lama, baik melalui ajaran-ajaran agama, negara, keluarga maupun budaya masyarakat, sehingga perlahan-lahan citra tersebut mempengaruhi masing-masing jenis kelamin, laki-laki dan perempuan secara biologis dan psikologis. BAB 20 SOSIOLOGI PENDIDIKAN A. PENGERTIAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN 1) Prof . Dr. S. Nasution, MA. Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangjkan kepribadian individu agar menjadi lebih baik. 2) F.G.Robbins dan Brown sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya. 3) Drs. Ary H. Gunawan sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dnegan analisis atau pendekatan sosiologis. “ Ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan,ataupun aspek-aspek lainnya secra mendalam melauli analisi atau pendekatan sosiologis.” B. RUANG LINGKUP SOSIOLOGI PENDIDIKAN Masalah-masalah yang diselidiki sosiologi pendidikan: 1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat - Hubungan pendidikan dengan sistem sosial atau struktur sosial - Hubungan antara sistem pendidikan dan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan - Fungsi pendidikan dalam kebudayaan - Fungsi sistem poendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural - Fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan rasial, kultural, dan sebagainya. 2. Hubungan antar manusia didalam sekolah - Hakikat kebudayaan sekolah sejauh ini ada perbedaanya dengan kebudayaan diluar sekolah - Pola interaksi sosial dan struktur masyarakat sekolah, yang meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial pada pola kepemimpinan informal. 3. Pengaruh sekolah terhadap prilaku dan kepribadian semua pihak disekolah - Peran sosial guru. - Hakikat kepribadian guru. - Pengaruh kepribadian guru terhadap kelakuan peserta didik. - Fungsi sekolah dalam sosialisasi peserta didik. 4. Lembaga pendidikan dalam masyarakat. - Pengaruh masyarakat atas organisasi sekolah atau lembaha pendidikan. - Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam masyarakat luar sekolah. - Hubungan antar sekolah dan masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan. - Faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat berkaitan dengan organisasi sekolah.
BAB 21 KEGUNAAN SOSIOLOGI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Tidak semua gejala sosial berjalan dengan baik. Pasti ada gejala yang menyimpang, atau yang lebih dikenal dengan gejala abnormal atau gejala patalogis. Gejala-gejala ini dalam Sosiologi lebih sering disebut dengan problem-problem sosial. Problem Sosial adalah problem yang menyangkut persoalan sosial, sebab problem ini berkaitan erat dengan hubungan antar manusia.
A. KLASIFIKASI PROBLEM SOSIAL DAN SEBAB MUSABABNYA Bisa dibagi atas sumber-sumbernya, Faktor ekonomi, biologs, biopsikologis, dan kebudayaan. B. UKURAN PROBLEM SOSIAL - Tidak adanya kesesuaian antara ukuran/nilai-nilai sosial dan kenyataan-kenyataan/tindakan-tindakan sosial. - Peristiwa alam bisa juga berpengaruh pada pola prilaku manusia - Banyaknya cara berfikir tiap orang - Manifest social anda latent social problemes - Perhatian dari masyarakat
C. PROBLEM SOSIAL YANG PENTING a. Kemiskinan b. Kejahatan c. Disorganisasi Keluarga d. Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern e. Peperangan f. Pelanggaran Terhadap Norma-norma Masyarakat (Pelacuran, Delikuensi Anal-anak dll) g. Masalah kependudukan h. Masalah lingkungan hidup i. Masalah Gender j. Fenomena aliran sesat
D. PERAN SOSIOLOGI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT a. Sosiologi Sebagai Ahli Riset b. Sosiolog sebagai Konsultan Kebijakan c. Sosiolog sebagai Tekhnisi d. Sosiolog sebagai Guru atau Pendidik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar